2017/10/22

Bukit Kelam Sintang, Kalimantan Barat

Bukit Kelam
Bukit Kelam (Foto by borneochannel.com)

Bukit Kelam merupakan salah satu obyek wisata alam yang eksotis di  Kalimantan Barat. Berada di Kecamatan Kelam Permai, 20 km dari Kota Sintang, Kalimantan Barat atau sekitar 395 km dari Pontianak. Terletak di antara dua sungai besar, yaitu Sungai Melawi dan Sungai Kapuas.

Uniknya, Bukit Kelam ini sebenarnya adalah batu monolit terbesar di Indonesia, yang oleh Wikipedia, batu ini disebut dengan Gunung Kelam, namun masyarakat lebih familiar menyebutnya dengan Bukit Kelam.

Batu ini terbentang dari timur ke barat dengan tinggi 1.002 mdpl. Jika kita coba dibandingkan dengan Ayery Rock di Australia yang oleh UNESCO diakui sebagai warisan dunia, sebagai Batu Monolid terbesar, sebenarnya hanya memiliki tinggi sekitar 863 Mpdl, jauh di bawah Bukit Kelam.

Bukit Kelam Sintang dan Ayers Hill Australia
Bukit Kelam Sintang dan Ayers Hill Australia (Foto by borneochannel.com)

Ada juga yang mengatakan bahwa Bukit Kelam adalah meteor yang jatuh ke bumi pada masa lalu. Sehingga banyak peneliti dari luar yang datang untuk meneliti bukit ini. Menurut penelitian, Bukit Kelam memang meteor yang jatuh di masa silam. Hal itu didasarkan pada unsur batu pembentuk Bukit Kelam yang sama dengan unsur bebatuan meteor. Dugaan itu kian menguat pula dengan banyaknya batu serupa yang dijumpai di sekeliling Bukit Kelam yang diperkirakan pecahan meteor.

Dibalik pesona dan keunikannya, tersimpan sebuah cerita yang cukup menarik. Konon, Bukit Kelam dulunya merupakan sebuah rantau (sebuah cekungan berbentuk teluk berupa rawa), namun karena terjadi suatu peristiwa maka kemudian rantau itu menjelma menjadi Bukit Kelam. Bagaimana kisahnya sehingga rantau itu menjelma menjadi bukit yang dikenal sebagai Bukit Kelam? Ikuti kisahnya dalam Legenda Bukit Kelam berikut ini.


Legenda Bukit Kelam


Alkisah, di Negeri Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah dua orang pemimpin dari keturunan dewa yang memiliki kesaktian tinggi, namun keduanya memiliki sifat yang berbeda. Yang pertama bernama Sebeji atau dikenal dengan Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka merusak, pendengki dan serakah. Tidak seorang pun yang boleh memiliki ilmu, apalagi melebihi kesaktiannya. Oleh karena itu, ia kurang disukai oleh masyarakat sekitar, sehingga sedikit pengikutnya. Sementara seorang lainnya bernama Temenggung Marubai. Sifatnya justru kebalikan dari sifat Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka menolong, berhati mulia, dan rendah hati. Kedua pemimpin tersebut bermata pencaharian utama menangkap ikan, di samping juga berladang dan berkebun.

Bujang Beji beserta pengikutnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai menguasai sungai di Simpang Melawi. Ikan di sungai Simpang Melawi beraneka ragam jenis dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan sungai di Simpang Kapuas. Tidak heran jika setiap hari Temenggung Marubai selalu mendapat hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan Bujang Beji.

Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi dengan menggunakan bubu (perangkap ikan) raksasa dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan batu-batu, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam bubunya. Ikan-ikan tersebut kemudian dipilihnya, hanya ikan besar saja yang diambil, sedangkan ikan-ikan yang masih kecil dilepaskannya kembali ke dalam sungai sampai ikan tersebut menjadi besar untuk ditangkap kembali. Dengan cara demikian, ikan-ikan di sungai di Simpang Melawi tidak akan pernah habis dan terus berkembang biak.

Mengetahui hal tersebut, Bujang Beji pun menjadi iri hati terhadap Temenggung Marubai. Oleh karena tidak mau kalah, Bujang Beji pun pergi menangkap ikan di sungai di Simpang Kapuas dengan cara menuba. Dengan cara itu, ia pun mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak. Pada awalnya, ikan yang diperoleh Bujang Beji dapat melebihi hasil tangkapan Temenggung Marubai. Namun, ia tidak menyadari bahwa menangkap ikan dengan cara menuba lambat laun akan memusnahkan ikan di sungai Simpang Kapuas, karena tidak hanya ikan besar saja yang tertangkap, tetapi ikan kecil juga ikut mati. Akibatnya, semakin hari hasil tangkapannya pun semakin sedikit, sedangkan Temenggung Marubai tetap memperoleh hasil tangkapan yang melimpah. Hal itu membuat Bujang Beji semakin dengki dan iri hati kepada Temenggung Marubai.

Wah, gawat jika keadaan ini terus dibiarkan!” gumam Bujang Beji dengan geram.

Sejenak ia merenung untuk mencari cara agar ikan-ikan yang ada di kawasan Sungai Melawi habis. Setelah beberapa lama berpikir, ia pun menemukan sebuah cara yang paling baik, yakni menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar pada hulu Sungai Melawi. Dengan demikian, Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.

Setelah memikirkan masak-masak, Bujang Beji pun memutuskan untuk mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan kesaktiannya yang tinggi, ia pun memikul puncak Bukit Batu yang besar itu. Oleh karena jarak antara Bukit Batu dengan hulu Sungai Melawi cukup jauh, ia mengikat puncak bukit itu dengan tujuh lembar daun ilalang.

Di tengah perjalanan menuju hulu Sungai Melawi, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara perempuan sedang menertawakannya. Rupanya, tanpa disadari, dewi-dewi di Kayangan telah mengawasi tingkah lakunya. Saat akan sampai di persimpangan Kapuas-Melawi, ia menoleh ke atas. Namun, belum sempat melihat wajah dewi-dewi yang sedang menertawakannya, tiba-tiba kakinya menginjak duri yang beracun.

Aduuuhhh... !” jerit Bujang Beji sambil berjingkrat-jingkrat menahan rasa sakit.

Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak bukit terputus. Akibatnya, puncak bukit batu terjatuh dan tenggelam di sebuah rantau yang disebut Jetak. Dengan geram, Bujang Beji segera menatap wajah dewi-dewi yang masih menertawakannya.

Awas, kalian! Tunggu saja pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada dewi-dewi tersebut sambil menghentakkan kakinya yang terkena duri beracun ke salah satu bukit di sekitarnya.

Enyahlah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji dengan perasaan marah.

Setelah itu, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rantau (Jetak) itu. Namun, Bukit Batu itu sudah melekat pada Jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu.

Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu (sejenis kayu raksasa yang ujungnya menjulang tinggi ke angkasa) yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dengan mata kepala dari bawah.

Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Keji melakukan upacara sesajian adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.

Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajiannya. Binatang itu adalah kawanan sampok (rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan.

Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?” tanya Raja Sampok kepada Raja Beruang dalam pertemuan itu.

Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang.

Bagaimana caranya?” tanya Raja Sampok penasaran.

Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.

Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, setuju dengan pendapat Raja Beruang.

Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.

Kretak... Kretak... Kretak... !!!

Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.

Tolooong... ! Tolooong.... !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong.

Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas Hulu, tepatnya di Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.

Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap. Dasar gunung Nanga Silat yang puncaknya telah diangkat oleh Bujang Beji bernama Bukit Tanggul.

Tidak begitu jauh dari gunung di hulu Sungai Melawi Nanga Pinoh, kita dapat menemukan Batu Lintang. Berdasarkan cerita rakyat, Batu Lintang adalah bekas batu penahan untuk menempatkan bubu yang dibuat oleh Tumenggung Marubai, dan juga Batu Tinting yang terletak antara Wilayah Tempunak dan Sintang. Bila air sungai Kapuas menyusut, tiga-empat batu bisa dilihat dengan jelas.

Baca juga :


Sumber:
Read more

2017/01/31

Upacara Perkawinan Adat Dayak Kanayant, Kalimantan Barat

Secara umum, adat perkawinan orang Dayak Kanayant dimulai dengan pinangan dan diakhiri dengan membongkar tengkalang (barang bawaan). Adat perkawinan suku Dayak Kanayant melarang perkawinan dua orang yang masih terikat keluarga.

TRIBUNPONTIANAK/RIDHOINO KRISTO SM

Asal-usul


Suku Dayak Kanayant tinggal berkelompok di pedalaman Kalimantan Barat. Hingga kini, suku ini masih berusaha melestarikan tradisi leluhur, salah satunya adalah adat perkawinan. Perkawinan bagi orang Kanayant merupakan masalah yang melibatkan kerabat dan keluarga. Artinya, menyangkut urusan seluruh waris kedua belah pihak. Jika tidak ditemui kata sepakat, maka perkawinan belum dapat dilaksanakan (JJ Kusni, 2001).

Secara umum, adat perkawinan orang Dayak Kanayant dimulai dengan pinangan dan diakhiri dengan membongkar tengkalang (seserahan). Lebih dari itu, terdapat beragam ritual yang harus dijalankan. Adat perkawinan suku Kanayant melarang perkawinan 2 orang yang masih terikat keluarga. Namun, beberapa orang terkadang rela melanggar aturan dengan membayar denda sebagai tebusan atas pelanggaran mereka (JU Lontaan, 1975).


Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Upacara adat perkawinan orang Dayak Kanayant biasanya digelar dari pagi hingga malam hari, bahkan hingga ke esok harinya lagi. Pelaksanaan upacara dipusatkan di rumah pengantin perempuan. Meskipun demikian, di rumah pengantin laki-laki biasanya juga digelar upacara sederhana bersama kerabat.


Pemimpin dan Peserta Upacara


Upacara adat perkawinan Dayak Kanayant dipimpin seorang yang disebut patone, yakni perantara yang dipilih dan diutus oleh waris pihak laki-laki untuk mendatangi calon mempelai perempuan. Patone bertanggung jawab terhadap segala kelancaran upacara perkawinan, baik urusan pesta maupun urusan rumah rumah tangga.


Peralatan dan Bahan


Peralatan dan bahan upacara perkawinan adat Dayak Kanayant tergantung pada model perkawinan yang akan digelar. Akan tetapi, umumnya peralatan dan bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
  • Kue tumpik (curu)
  • Babi
  • Ayam
  • Nasi pulut
  • Uang logam
  • Pakaian laki-laki sehari-hari
  • Kain tenun


Proses Pelaksanaan


Secara umum, proses pelaksanaan upacara adat perkawinan Dayak Kanayant meliputi 3 tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup.

Persiapan


Pada tahap ini, semua orang yang akan berpartisipasi dalam upacara ini bersama-sama menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan proses perkawinan yang akan dilakukan. Mulai dari perlengkapan hingga kebutuhan adat.

Pelaksanaan


Pelaksanaan upacara adat perkawinan Dayak Kanayant digelar dalam beberapa tahap, antara lain tunang, balawang karamigi, bisik gumi, pasamean, dan prabut pelaminan. Berikut adalah pelaksanaan selengkapnya :

Tunang

Pada tahap ini, orangtua mempelai laki-laki meminta kepada orangtua perempuan untuk meminang anaknya. Pada umumnya, lamaran ini akan diterima. Saat ini, sistem tunangan ini masih dilakukan meskipun sebenarnya antara kedua calon sudah saling mengenal dan bersepakat untuk menikah. Dalam konteks ini, tunang dilakukan untuk menghormati adat.

Bisik Gumii

Tahap ini adalah tahap di mana orangtua laki-laki memanggil segala warisnya yang terdiri dari 2 saudara pihak bapak dan ibu (4 waris), untuk berunding. Hal yang dirundingkan adalah menyelidiki apakah calon menantu perempuan yang dipilih masih terikat keluarga atau tidak, dan untuk mengetahui apakah calon menantu perempuan itu cocok dijadikan istri. Setelah calon mempelai perempuan yang dimaksud telah disetujui, maka 4 waris kemudian memilih seorang patone.

Hal yang sama juga dilakukan oleh keluarga mempelai perempuan. Pihak perempuan harus mengadakan penelusuran tentang 3 hal, yaitu apakah ia masih terikat keluarga sehingga harus mengeluarkan adat pangaras, jika ada ikatan keluarga tapi jauh ia harus membayar adat pari basah, dan jika terdapat ikatan keluarga dekat ia harus membayar adat pangarumpang.

Balawang Karamigi

Kurang lebih 3 hari setelah perundingan, patone datang ke rumah mempelai perempuan untuk bertemu dengan bapak sang gadis. Patone akan bertanya dengan kata-kata ungkapan yang akan dijawab oleh tuan rumah. Jawaban dari tuan rumah inilah yang menentukan apakah lamaran itu diterima atau tidak.

Pasamean

Setelah itu, tuan rumah akan menggelar adat bakomo mantah, yaitu membuat tambul, tumpik, nasi pulut, dan menyembelih seeokor ayam. Semua bahan itu akan dimasak, lalu dimakan bersama. Setelah persetujuan ini, pihak perempuan biasanya akan mengirimkan sebentuk cincin kepada calon mempelai laki-laki. Pada saat itu, mereka akan menentukan hari perkawinan. Saat mengirimkan cincin, biasanya akan diucapkan matamuan asap bontong (kedua pihak telah mempersatukan asap dapurnya). Pihak mempelai laki-laki biasanya akan mengirimkan benda-benda kuno sebagai pertanda ikatan.

Prabut Pelaminan

Setelah kedua belah pihak setuju, patone akan mendatangi keluarga kedua mempelai untuk menanyakan kelengkapan segala persyaratan. Jika sudah lengkap, patone akan bertanya perkawinan akan digelar dengan cara apa, begawe jambu Jawa (kedua belah pihak orang kaya dengan pesta besar), begawe mokongi (keduanya keluarga sederhana), atau begawe ngalalak copak (kedua keluarga amat sederhana). Jika sudah memilih salah satu, perkawinan akan segera digelar.

Mengantar Pengantin Laki-laki

Rombongan pengantin laki-laki dipimpin oleh patone pergi ke rumah mempelai perempuan dengan diiringi oleh para pemuda yang dipilih. Mereka membawa makanan dan atong (kotak) yang berisi uang logam, ayam yang telah direbus, dan pakaian laki-laki sehari-hari. Barang yang ada di dalam atong menjadi alamat atau pertanda bagi calon mempelai perempuan. Jika berisi kain belacu, berarti calon suami meminta calon istri untuk membantunya menjadi tani. Namun, jika berisi kain-kain mewah seperti batik, maka itu pertanda kalau sang istri tidak perlu susah-susah membantu mengerjakan sawah.

Menyambut Rombongan Pengantin Laki-laki

Rombongan pengantin perempuan akan menyambut dengan menebarkan beras kuning. Setelah itu, seseorang dari pihak perempuan menyerahkan beras banyu sepinggan ke patone. Lalu patone menerimanya dan mencelupkan tangannya ke dalam beras tersebut serta mengusapkan tangannya ke dahi pengantin laki-laki sebagai tanda ia telah membersihkan segala kekotoran selama perjalanan. Setelah itu, seorang gadis datang membawa setekoh air putih dan menuangkannya ke kaki pengantin laki-laki. Kedua pengantin lalu masuk ke rumah dan duduk di serambi diikuti rombongan. Saat mereka duduk, datanglah seorang gadis membawa sepiring beras pulut, beras biasa, seperangkat sirih, beras banyu, dan seekor ayam yang lalu dikipas-kipaskan sebagai simbol membuang sial selama perjalanan pengantin laki-laki.

Pengantin Tama atau Nyangahan Nabare Rasi

Sesudah acara makan malam, pengantin perempuan duduk di balik kelambu di dalam kamar.  Kemudian patone mendekati kamar diikuti pengantin laki-laki. Di depan kamar, patone berdiri sambil memikul tikar dan membungkus sebilah tombak, sedangkan pengantin laki-laki memikul atong. Patone lalu mengetuk pintu sambil mengucap mantonk katingek. Mendengar suara ketukan, pengantin perempuan membuka pintu lalu patone dan pengantin laki-laki masuk. Setelah itu, kedua pengantin duduk bersandingan dan patone memberikan nasi pulut kepada kedua pengantin dengan posisi tangan bersilang. Seusai acara ini, kedua pengantin dipersilahkan tidur.

Mandi di Sungai

Keesokan paginya, kedua pengantin pergi ke sungai untuk mandi sambil membawa bara api dari dapur. Sesampai di sungai, mereka akan duduk di tepi sungai lalu berdoa sambil memegang bara api yang kemudian dicelupkan ke sungai. Tindakan ini merupakan simbol agar Jubata (Tuhan) memadamkan bencana yang akan mengancam mereka seperti padamnya bara api tersebut.  

Penutup


Acara ditutup dengan ngama tingkalang yakni membongkar tingkalang oleh ahli waris. Setelah itu, semua rombongan akan pulang dan pengantin perempuan pulang ke rumah pengantin laki-laki. Setelah semua pulang, upacara adat ini dianggap selesai.


Doa-doa


Dalam upacara perkawinan adat ini terdapat doa-doa yang dilantunkan, antara lain:
  • Doa permohonan kepada Jubata agar kedua mempelai diberikan keturunan yang baik dan dilimpahi rejeki.
  • Doa permohonan agar kedua mempelai beserta keluarganya dijauhkan dari bencana.


Pantangan dan Larangan


Setelah pengantin perempuan diboyong ke rumah pengantin laki-laki, keduanya dilarang menerima tamu dan tidak diizinkan bepergian selama 3 hari. Jika dilanggar, maka keduanya akan terkena sangsi adat.


Nilai-nilai


Upacara adat perkawinan orang Dayak Kanayant memiliki nilai-nilai dalam dalam kehidupan, antara lain:
  • Pelestarian tradisi. Upacara adat perkawinan ini adalah ajaran leluhur. Oleh karena itu, mempraktekkan ajaran ini secara tidak langsung merupakan salah satu upaya dalam melestarikan tradisi leluhur.
  • Melanjutkan sejarah suku. Salah satu tujuan perkawinan adalah mencetak generasi penerus. Dengan generasi yang terus berlanjut, maka sejarah dan kebudayaan bangsa tersebut akan bertahan dan berkembang.
  • Pelestarian sastra tradisional. Nilai ini terlihat dari ungkapan-ungkapan sindiran yang diucapkan saat pertunangan.
  • Mempererat dan memperluas hubungan keluarga. Nilai ini tercermin dari tujuan perkawinan itu sendiri, yakni menyatukan kedua belah keluarga menjadi satu keluarga besar.
  • Memperbanyak jumlah anggota suku. Dengan perkawinan, jumlah keluarga akan bertambah, begitu juga dengan jumlah anggota suku.


Adanya upacara adat perkawinan ini membuktikan bahwa kehidupan orang Dayak Kanayant sudah memiliki struktur kehidupan yang cukup teratur. Hal ini menegaskan betapa kayanya adat dan tradisi orang Dayak Kanayant.



Referensi

Read more

2017/01/29

Asal Mula Pulau Nusa

Pulau Nusa adalah sebuah pulau yang terletak di Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah, Indonesia. Bentuk pulau itu berkelok-kelok seperti ular naga. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat setempat, pulau ini terbentuk dari seekor naga besar yang sudah mati di dasar Sungai Kahayan. Peristiwa apakah yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bangkai naga besar itu bisa menjelma menjadi sebuah pulau? Temukan jawabannya dalam cerita Asal Mula Pulau Nusa berikut ini!


Alkisah, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang laki-laki bernama Nusa. Ia tinggal bersama istri dan adik ipar laki-lakinya di sebuah kampung yang berada di pinggir Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Pekerjaan sehari-hari Nusa dan adik iparnya adalah bercocok tanam dan menangkap ikan di Sungai Kahayan.

Pada suatu waktu, kemarau panjang melanda daerah tempat tinggal mereka. Kelaparan terjadi di mana-mana. Semua tanaman penduduk tidak dapat tumbuh dengan baik. Tanaman padi menjadi layu, buah pisang menjadi kerdil. Air Sungai Kahayan surut dan ikan-ikannya pun semakin berkurang.

Melihat kondisi itu, Nusa bersama istri dan adik iparnya memutuskan untuk pindah ke sebuah dusun dengan harapan akan mendapatkan sumber penghidupan yang lebih baik. Kalaupun tanaman singkong penduduk kampung itu tidak ada, setidaknya tetumbuhan hutan masih dapat membantu mereka untuk bertahan hidup.

Setelah mempersiapkan bekal seadanya, berangkatlah mereka menuju udik dengan menggunakan perahu. Setelah tiga hari menyusuri Sungai Rungan (anak Sungai Kahayan), sampailah mereka di persimpangan sungai. Namun, mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan, karena ada sebatang pohon besar yang tumbang dan melintang di tengah sungai. Untuk melintasi sungai itu, mereka harus memotong pohon itu. Akhirnya Nusa dan adik iparnya secara bergantian memotong pohon itu dengan menggunakan kapak.

Hingga sore, pohon itu belum juga terputus. Perut mereka pun sudah mulai keroncongan. Sementara bekal yang mereka bawa sudah habis. Akhirnya, Nusa memutuskan untuk pergi mencari makanan ke hutan di sekitar sungai itu.

“Aku akan pergi mencari makanan di tengah hutan itu. Kamu selesaikan saja pekerjaan itu,” kata Nusa kepada adik iparnya yang sedang memotong pohon itu.

“Baik, Bang!” jawab adik iparnya.

Setelah berpamitan kepada istrinya, berangkatlah Nusa ke tengah hutan. Tidak lama kemudian, Nusa sudah kembali membawa sebutir telur yang besarnya dua kali telur angsa.

“Hei, lihatlah! Aku membawa makanan enak untuk makan malam kita. Dik, tolong rebus telur ini!” pinta Nusa kepada istrinya.

“Maaf, Bang! Adik tidak mau, karena Adik tahu telur binatang apa yang Abang bawa itu,” jawab istri Nusa menolak.

“Ah, Abang tidak peduli ini telur binatang apa. Yang penting Abang bisa kenyang. Abang sudah tidak kuat lagi menahan lapar,” kata Nusa dengan nada ketus.

Akhirnya, telur itu dimasak sendiri oleh Nusa. Hampir tengah malam telur itu baru matang. Ia pun membangunkan istri dan adik iparnya yang sudah terlelap tidur. Namun keduanya tidak mau memakan telur itu. Akhirnya, telur itu dimakan sendiri oleh Nusa sampai habis. Sementara istri dan adik iparnya kembali melanjutkan tidurnya.

Keesokan harinya, alangkah terkejutnya Nusa saat terbangun dari tidurnya. Tubuhnya dipenuhi dengan bintil-bintil berwarna merah dan terasa sangat gatal. Ia pun mulai panik dan kemudian menyuruh istri dan adik iparnya untuk membantu menggaruk tubuhnya. Namun anehnya, semakin digaruk, tubuhnya semakin terasa gatal dan perih. Melihat kondisinya seperti itu, Nusa segera menyuruh adik iparnya untuk pergi mencari bantuan. Sementara istrinya terus membantu menggaruk tubuhnya.

Menjelang siang, keadaan Nusa semakin mengerikan. Bintil-bintil merah itu berubah menjadi sisik sebesar uang logam memenuhi sebagian tubuhnya. Beberapa saat kemudian, tubuhnya bertambah besar dan memanjang hingga mencapai sekitar lima depa [1]. Dari kaki sampai ke ketiaknya telah berubah menjadi naga, sedangkan tangan, leher, dan kepalanya masih berwujud manusia.

“Maafkan Abang, Dik! Rupanya telur yang Abang makan tadi malam adalah telur naga. Lihat tubuh dan kaki Abang! Sebentar lagi Abang akan menjadi seekor naga. Tapi, Adik tidak usah sedih, karena ini sudah takdir Tuhan,” ujar Nusa kepada istrinya.

Istrinya hanya terdiam dan bersedih melihat nasib malang yang menimpa suaminya. Air matanya pun tidak terbendung lagi. Tidak lama kemudian, adik iparnya kembali bersama dua puluh orang warga yang siap untuk membantunya. Namun saat melihat tubuh Nusa, mereka tidak dapat berbuat apa-apa, karena mereka belum pernah melihat kejadian aneh seperti itu. Akhirnya, hampir sehari semalam mereka hanya duduk mengelilingi tubuh Nusa yang tergeletak tidak berdaya di atas pasir sambil memerhatikan perkembangan selanjutnya.

Keesokan harinya, Nusa benar-benar sudah berubah menjadi seekor ular naga. Tubuhnya semakin panjang dan besar. Panjangnya sudah mencapai sekitar duapuluh lima depa, dan besarnya tiga kali pohon kelapa.

Menjelang siang, Nusa meminta kepada seluruh warga agar menggulingkan tubuhnya ke sungai.

“Tolong bantu gulingkan tubuhku ke dalam sungai itu! Aku sudah tidak kuat lagi menahan terik matahari,” keluh Nusa.

Warga pun beramai-ramai mendorong tubuhnya ke dalam sungai. Namun, baru beberapa saat berada di dalam air, tiba-tiba Nusa merasa sangat lapar.

“Aduh..., aku lapar sekali. Tolong carikan aku ikan!” seru Nusa sambil menahan rasa lapar.

Warga pun segera berpencar mencari ikan di danau atau telaga yang berada di sekitar hutan. Beberapa lama kemudian, warga kembali dengan membawa ikan yang banyak. Dalam sekejap, ikan-ikan itu pun habis dilahapnya. Menjelang senja, Nusa berpesan kepada istrinya.

“Dik! Nanti malam akan turun hujan lebat diiringi guntur dan petir. Air sungai ini akan meluap. Sampaikan hal ini kepada warga, agar segera meninggalkan tempat ini. Saat sungai banjir, Abang akan menuju ke Sungai Kahayan dan terus ke muara. Abang akan tinggal beberapa waktu di sana, dan kemudian meneruskan perjalanan ke laut. Di sanalah Abang akan tinggal untuk selamanya,” ucap Nusa sambil meneteskan air mata.

Istrinya pun tidak kuat menahan tangis. Ia benar-benar akan kehilangan suaminya.

“Bang, jangan tinggalkan Adik! Adik tidak mau kehilangan Abang,” istri Nusa mengiba sambil menangis tersedu-sedu.

“Sudahlah, Dik! Ini sudah takdir Tuhan. Setelah Abang pergi, pulanglah bersama warga itu!” ujar Nusa kepada istrinya.

Ketika malam sudah larut, apa yang diramalkan Nusa benar-benar terjadi. Suara guntur bergemuruh diiringi oleh petir yang menyambar-nyambar. Kilat memancar sambung-menyambung. Tidak lama kemudian, hujan pun turun dengan lebat. Istri Nusa dan semua warga segera menjauh dari sungai. Mereka dirundung perasaan cemas dan diselimuti perasaan takut. Beberapa saat kemudian, air Sungai Rungan pun meluap. Tubuh Nusa terbawa arus banjir menuju Sungai Kahayan. Mereka yang menyaksikan peristiwa itu hanya diam terpaku. Mereka sudah tidak dapat lagi menolong Nusa. Setelah air Sungai Rungan surut, para warga kembali ke perkampungan mereka. Istri dan adik ipar Nusa pun mengikuti rombongan itu.

Sementara itu, Nusa sudah tiba di muara Sungai Kahayan. Ia menetap sementara di sebuah teluk yang agak dalam. Ia sangat senang, karena terdapat banyak jenis ikan yang hidup di sana. Namun kehadirannya menjadi ancaman bagi kehidupan ikan-ikan tersebut. Oleh karena itu, ikan-ikan tersebut berusaha mencari cara untuk mengusirnya. Mereka pun berkumpul di suatu tempat yang tersembunyi.

“Apa yang harus kita lakukan untuk mengusir naga itu?” tanya Ikan Jelawat bingung.

“Aku punya akal. Aku akan bercerita kepada naga itu bahwa di lautan sana ada seekor naga besar yang ingin mengadu kekuatan dengannya,” kata Ikan Saluang (sejenis ikan teri).

“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Ikan Jelawat bertambah bingung.

“Tenang, saudara-saudara! Serahkan semua persoalan ini kepadaku. Aku akan meminta bantuan kalian jika aku memerlukannya. Bersiap-siap saja menunggu komando dariku,” ujar Ikan Saluang.

Akhirnya, semua ikan yang ada di situ setuju dengan keputusan Ikan Saluang. Keesokan harinya, Ikan Saluang mulai menjalankan rencananya. Ia diam termenung seorang diri di suatu tempat yang tidak jauh dari naga itu berada. Ia berpikir, naga itu tidak mungkin memangsa tubuhnya yang kecil itu, karena tentu tidak akan mengenyangkannya. Tidak lama kemudian, naga itu pun datang menghampirinya.

“Hei, Ikan Saluang! Kenapa kamu bersedih?” tanya Naga Nusa.

“Iya, Tuan Naga! Ada sesuatu yang membuat Hamba bersedih,” jawab Ikan Saluang.

“Apakah itu, Ikan Saluang? Katakanlah!” desak Naga Nusa.

“Begini, Tuan. Kemarin Hamba bertemu seekor naga besar di lautan sana,” kata Ikan Saluang.

“Apa katamu? Naga? Apakah dia lebih besar dari pada aku?” tanya Naga Nusa itu mulai gusar.

“Besarnya hampir sama seperti Tuan. Rupanya dia sudah mengetahui keberadaan Tuan di sini. Bahkan, dia menantang Tuan untuk mengadu kekuatan,” jawab Ikan Saluang.

Mendengar cerita Ikan Saluang itu, Naga Nusa pun naik pitam.

“Berani sekali naga itu menantangku. Katakan padanya bahwa aku menerima tantangannya! Besok suruh dia datang ke tempat ini, aku akan menunggunya!” seru Naga Nusa.

“Baik, Tuan Naga!” jawab Ikan Saluang lalu pergi.

Keesokan harinya, Naga Nusa pun datang menunggu di tempat itu. Sementara Ikan Saluang, bukannya pergi memanggil naga yang ada di lautan sana, melainkan bersembunyi di balik bebatuan bersama teman-temannya sambil memerhatikan gerak-gerik Naga Nusa yang sedang mondar-mandir menunggu kedatangan musuhnya. Namun, musuh yang ditunggu-tunggunya tak kunjung datang, karena naga yang dimaksudkan Ikan Saluang itu memang tidak ada. Akhirnya ia pun kelelahan dan tertidur di tempat itu.

Ikan Saluang pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pelan-pelan ia mendekati ekor Naga Nusa, lalu berteriak dengan keras.

“Tuanku! Musuh datang!”

Mendengar teriakan itu, Naga Nusa menjadi panik. Dengan secepat kilat, ia memutar kepalanya ke arah ekornya, sehingga air sungai itu mendesau. Ia mengira suara air yang mendesau itu adalah musuhnya. Tanpa berpikir panjang, ia pun menyerang dan menggigitnya. Namun, tanpa disadari, ia menggigit ekornya sendiri hingga terputus.

“Aduuhhh....!” terdengar suara jeritan Naga Nusa menahan rasa sakit.

Pada saat itulah, Ikan Saluang segera memerintahkan semua teman-temannya untuk menggerogoti luka Naga Nusa. Naga Nusa pun semakin menjerit dan mengamuk. Tempat itu bergetar seolah-olah terjadi gempa bumi. Namun, kejadian itu tidak berlangsung lama. Tenaga Naga Nusa semakin lemah, karena kehabisan darah. Beberapa saat kemudian, Naga Nusa akhirnya mati.

Semua ikan yang ada di dasar Sungai Kahayan berdatangan memakan daging Naga Nusa hingga habis. Hanya kerangkanya yang tersisa. Lama kelamaan, kerangka tersebut tertimbun tanah dan ditumbuhi pepohonan. Tumpukan pepohonan itu kemudian membentuk sebuah pulau yang kini dikenal dengan nama Pulau Nusa.

* * *

Demikian cerita Asal Mula Pulau Nusa dari Kalimantan Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung banyak pesan moral. Salah satunya adalah akibat buruk yang ditimbulkan dari sifat semberono. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Nusa yang nekad memakan sebutir telur yang tidak diketahui asal usulnya. Akibatnya, ia pun menjelma menjadi seekor naga besar, karena ternyata telur yang dimakannya adalah telur naga.

Dari cerita di atas dapat diambil sebuah pelajaran bahwa jika mendapatkan suatu makanan yang tidak diketahui asal usulnya ataupun bahaya yang dapat ditimbulkan dari makanan itu, hendaknya tidak memakannya.


Sumber:


[1] Depa adalah ukuran sepanjang kedua belah tangan, memanjang dari ujung jari tengah tangan kiri sampai ke ujung jari tengah tangan kanan (empat hasta, enam kaki).
Read more

2017/01/28

Mendaki Bukit Raya Dari Kota Palangka Raya

Bukit Raya atau Gunung Raya merupakan sebuah gunung yang letaknya di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah yang masuk kedalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya yang merupakan Kawasan konservasi yang terletak di jantung Pulau Kalimantan. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Kalimantan yang masuk kedalam wilayah Indonesia yang tingginya 2.278 MDPL.

Mendaki Bukit Raya Dari Kota Palangka Raya

Mungkin di kalangan pendaki gunung jarang terdengar atau mendengar bahkan tidak mengetahui tentang gunung ini, Sehingga Bukit Raya ini cukup jarang didaki bagi penggiat dan pendaki gunung di Indonesia. Gunung ini terletak di perbatasan antara Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat dengan puncak gunungnya berada di wilayah Kalimantan Tengah.

Walaupun tinggi gunung ini tidak terlalu tinggi (2.278 MDPL) akan tetapi tingkat kesulitannya jauh lebih sulit dibandingkan gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa, sebelum kita mendaki, kita terlebih dahulu harus menempuh perjalanan darat dan sungai selama 2 hari untuk sampai ke kaki gunung (Basecamp Pendakian), lalu perjalanan berat melalui tanjakan curam untuk bisa sampai ke puncak bukit raya melewati hutan basah Pulau Kalimatan yang dekat dengan garis Equator (jalur Kalbar).

Tak salah sebagian orang yang pernah mendaki gunung Bukit Raya jalur pendakiannya (katanya) nomor dua tersulit dan termahal di Indonesia setelah Jaya Wijaya, Oleh kerena itulah penyebab jarangnya pendaki yang mencicipi pendakian di puncak tertinggi ke 7 di indonesia ini.

Jika dulu jalur pendakian selalu melewati kota Pontianak Kalimantan Barat, kini pendakian sudah bisa dilakukan dari Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Berikut adalah jalur-jalur mana saja yang dapat dilalui untuk dapat sampai ke Bukit Raya dari kota Palangka Raya :

  1. Dari Palangka Raya (Bandara Tjilik Riwut) menuju desa Tumbang Habangoi (Kabupaten Katingan) ditempuh dengan mobil selama 8 jam.
  2. Tiba di desa Tumbang Habangoi menginap semalam di rumah Kepala Desa untuk melaksanakan ritual adat. Ritual ini dimaksudkan agar rombongan yang mendaki Bukit Bukit Raya selamat dalam perjalanan dan dijauhkan dari bahaya.
  3. Hari pertama, dari desa Tumbang Habangoi menuju titik awal pendakian menggunakan ojek motor selama 2 jam perjalanan.
  4. Dari Titik Awal pendakian dilanjutkan dengan berjalan kaki diawali dengan menyeberangi Sei Trongoi (sungai) menuju Pintu Rimba dan terus berjalan hingga tiba di Camp 1 Sei Dehiei untuk beristirahat (bermalam). Perjalanan ditempuh selama 5 jam dengan kondisi jalur yang cukup datar.
  5. Hari kedua, dari Camp 1 Sei Dehiei melanjutkan perjalanan menuju Camp 2 Tumbang Tosah menyeberangi banyak anak sungai selama 4 jam.
  6. Dari Camp 2 Tumbang Tosah melanjutkan perjalan menyeberangi sungai yang cukup deras selama 5 jam menuju Camp 3 Bitah Samba untuk bermalam.
  7. Hari ketiga, dari Camp 3 Bitah Samba melanjutkan perjalan menuju Tanjakan Memuring kemudian dilanjutkan menuju Puncak Bukit Raya. Kondisi jalur semakin curam terutama di Tanjakan Memuring menuju ke puncak. Perjalanan ditempuh selama 7 - 8 jam.
  8. Tiba di puncak Bukit Raya yang bernama Puncak Kakam atau Puncak Rajawali dengan ketinggian 2.278 MDPL.

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=QJxMBNdwkkg
Read more

2016/08/28

Legenda Sangi Sang Pemburu

Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia yang memiliki kekayaan alam berupa emas yang sangat melimpah. Logam berwarna kuning mengkilau itu banyak terdapat di dasar Sungai Kahayan. Di atas Sungai Kahayan yang panjangnya 600 kilometer tersebut, tampak sebuah pemandangan yang sangat menarik. Dari kejauhan kesan yang muncul adalah sebuah pemukiman terapung di tengah sungai. Kesan pemukiman terapung itu semakin kuat dengan adanya asap hitam yang mengepul tinggi ke angkasa. Setelah dilihat dari dekat, ternyata pemukiman itu adalah ribuan lanting (rakit kayu) tambang emas yang berbentuk rumah terapung berjejer hampir menutup semua alur sungai. Lanting-lanting tersebut berisi peralatan tambang berupa mesin yang setiap hari bekerja melakukan kegiatan penambangan, menyedot lumpur dan pasir dari dasar Sungai Kahayan untuk mencari emas.

Masyarakat di sekitar Sungai Kahayan meyakini bahwa keberadaan emas yang melimpah tersebut merupakan peninggalan leluhur mereka. Menurut cerita yang beredar, pada zaman dahulu kala, di daerah itu telah hidup seorang pemuda gagah yang bernama Sangi. Sehari-hari ia bekerja sebagai pemburu. Suatu hari, ketika ia sedang berburu di hutan, ia bertemu dengan seekor naga yang bisa menjelma menjadi pemuda tampan. Konon, siapapun yang bertemu dengan naga itu, maka ia juga akan menjadi naga jadi-jadian dan selalu awet muda. Inilah yang dialami Sangi, setelah bertemu dengan pemuda tampan itu, ia kemudian menjelma menjadi naga jadi-jadian dan selalu awet muda. Akan tetapi, Sangi harus mematuhi larangan yang diberikan oleh sang Pemuda yaitu tidak boleh menceritakan kejadian itu kepada orang lain. Suatu ketika, Sangi melanggar larangan itu, akibatnya ia pun berubah menjadi naga. Pada saat sebelum menceburkan dirinya ke dalam Sungai Kahayan, Sangi sempat membuang harta pusakanya berupa perhiasan dan kepingan-kepingan emas ke dalam Sungai Kahayan. Cerita ini berkembang di kalangan suku-bangsa Dayak Ngaju di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang dikenal dengan cerita Sangi Sang Pemburu.


Legenda Sangi Sang Pemburu


Pada zaman dahulu kala, di Kalimantan Tengah, hiduplah seorang pemburu tangguh bernama Sangi. Ia sangat ahli dalam menyumpit binatang buruan. Sumpitnya selalu mengenai sasaran. Setiap kali berburu, ia selalu berhasil membawa pulang banyak daging binatang buruan.

Sangi tinggal di daerah aliran Sungai Mahoroi, anak Sungai Kahayan. Ia tinggal bersama keluarga dan kerabatnya. Mereka hidup dari bercocok tanam di ladang dan berburu. Ladang mereka masih sering berpindah-pindah. Selain itu, mereka juga mencari bahan pangan dari tumbuh-tumbuhan yang terdapat di hutan-hutan pedalaman.

Pada suatu hari, seperti biasa Sangi pergi berburu. Namun hari itu, ia sangat kesal. Dari pagi hingga sore, tidak seekor binatang buruan pun yang diperolehnya. Karena hari mulai senja, ia berniat pulang.

Dalam perjalanan pulang, Sangi melihat air tepi sungai sangat keruh. ”Sepertinya baru saja seekor babi hutan lewat di tepi sungai itu,” kata Sangi dalam hati. Karena penasaran, Sangi kemudian memeriksa bekas jejak kaki babi di tanah. Ternyata dugaan Sangi benar. Ia melihat bekas jejak kaki babi hutan di tanah menuju ke arah sungai. Dengan penuh harap, Sangi mengikuti arah jejak binatang itu. Tidak seberapa jauh dari sungai, ia menemukan babi hutan yang dicarinya. Namun sayang, sebagian dari tubuh babi hutan itu telah berada di mulut seekor naga. Pemandangan itu sangat mengerikan dan menakutkan Sangi. Ia tidak bisa berteriak. Dengan pelan-pelan, ia beranjak dari tempatnya berdiri lalu bersembunyi di tempat yang tidak jauh dari naga itu.

Dari balik tempatnya bersembunyi, Sangi menyaksikan naga itu berusaha menelan seluruh tubuh babi hutan. Meskipun naga itu telah mencobanya berulang-ulang, namun usahanya selalu gagal. Karena kesal, akhirnya naga itu pun menyerah. Dengan murka ia palingkan wajahnya ke arah Sangi yang sejak tadi memerhatikannya.

Mengetahui hal tersebut, Sangi sangat ketakutan. Badannya gemetaran. ”Waduh gawat! Naga itu ternyata mengetahui keberadaan saya di sini. Jangan-jangan...naga itu hendak memangsa saya,” gumam Sangi dengan cemasnya. Baru saja ucapan itu lepas dari mulut Sangi, dalam sekejap mata bayangan naga itu menghilang dan menjelma menjadi seorang pemuda tampan. Sangi sangat heran. Ketakutannya berubah menjadi ketakjuban.

Tiba-tiba, pemuda tampan itu menghampiri Sangi dan memegang lengannya. “Hei, anak muda! Telan babi hutan itu! Kamu tidak seharusnya mengintip naga yang sedang menelan mangsanya!” bentak pemuda tampan itu. ”Saa…saa…ya…tidak bisa,” kata Sangi ketakutan. ”Bagaimana mungkin saya dapat menelan babi hutan sebesar itu?” tambahnya. “Turuti perintahku! Jangan membantah!” seru pemuda tampan itu tak mau dibantah.

Mendengar bentakan itu, Sangi tidak bisa menolak apa yang diperintahkan pemuda tampan itu. Sangi kemudian mendekati babi yang tergeletak di tanah tak jauh darinya. Sungguh ajaib, dengan mudah Sangi menelan babi hutan itu, seolah-olah ia seekor naga besar. Sangi pun terheran-heran pada dirinya sendiri. ”Kenapa hal ini bisa terjadi? Ini benar-benar tidak masuk akal,” kata Sangi dalam hati. “Karena kamu telah mengintip naga yang tengah memakan mangsanya, maka sejak itu pula kamu telah menjadi naga jadi-jadian. Kamu tidak dapat menolak apa yang sudah terjadi,” ujar pemuda tampan itu menjelaskan.

”Apa? Aku tidak mau jadi seekor naga jadi-jadian. Aku mau jadi manusia biasa!” seru Sangi tidak terima. ”Tuan, jadikan aku menusia biasa saja!” serunya memohon. Mendengar permohonan Sangi, pemuda tampan itu tertawa terbahak-bahak, ”Haa...haa...haa..., kamu tak perlu cemas anak muda. Selama kamu dapat merahasiakan kejadian ini, kamu dapat terus menjadi manusia,” jelas si pemuda tampan. Bernakah itu tuan?” tanya Sangi tak percaya. Karena masih dihantui rasa penasaran, Sangi kemudian bertanya lagi kepada pemuda tampan itu, ”Apa keistimewaan menjadi seekor naga jadi-jadian itu?” sambil tersenyum, pemuda tampan itu menjawab, ”Sebenarnya kamu orang yang sangat beruntung. Dengan demikian, kamu akan terus awet muda. Banyak orang ingin awet muda, akan tetapi tidak bisa. Sedangkan kamu, dengan mudah mendapatkannya”. Sangi sangat senang mendengar jawaban itu, ”Wah, menyenangkan sekali kalau begitu, Saya bisa hidup selama beratus-ratus tahun.” Lalu, Sangi bertanya kembali, ”Apa larangannya?” Pemuda tampan itu menjawab, ”Kamu tidak boleh menceritakan hal ini kepada siapa pun. Jika kamu melanggarnya, wujudmu akan menjelma menjadi seekor naga. Kamu paham?” tanya pemuda tampan itu. ”Wah...mudah sekali larangannya tuan. Kalau begitu saya bersedia untuk mematuhi larangan itu,” jawab Sangi dengan mantap. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba pemuda tampan di hadapannya itu menghilang entah ke mana. Sangi pun bergegas pulang ke rumahnya.

Sejak itu, Sangi terus menjaga agar rahasianya agar tidak diketahui orang lain, termasuk kerabat dan keluarga terdekatnya. Dengan begitu, ia tetap awet muda sampai usia 150 tahun. Hal ini membuat para kerabat, anak cucu, dan cicitnya ingin mengetahui rahasianya hingga tetap awet muda. Mereka juga ingin seperti Sangi. Panjang umur, sehat, dan awet muda.

Setiap hari, mereka terus bertanya kepada Sangi mengenai rahasianya. Karena didesak terus-menerus, akhirnya Sangi membeberkan rahasia yang telah lama ditutupinya. Dengan demikian, Sangi telah melanggar larangan yang dikiranya mudah itu. Akibatnya, tubuhnya mulai berganti rupa menjadi seekor naga. Kedua kulit kakinya pelan-pelan berganti menjadi sisik tebal, dan akhirnya berubah menjadi seekor naga yang besar dan panjang. Menyadari hal itu, Sangi kemudian menyalahkan seluruh keturunannya yang terus mendesaknya hingga ia membeberkan rahasianya. Hal inilah yang membuat Sangi sangat marah dan geram. ”Kalian memang jahat! Kalian semua akan mati!” seru Sangi dengan geram.

Setelah itu, Sangi lari ke sana ke mari dengan marah. Seluruh badannya terasa panas Akhirnya, tubuhnya menjelma menjadi seekor naga. Sebelum menceburkan diri ke dalam sungai, ia sempat mengambil harta pusaka yang lama disimpannya dalam sebuah guci Cina. Guci itu berisi perhiasan dan kepingan-kepingan emas. Sangi terus berlari ke sungai. Setibanya di Sungai Kahayan, ia segera menyebarkan perhiasan dan kepingan-kepingan emas itu sambil berseru, ”Siapa saja yang berani mendulang emas di daerah aliran sungai ini, maka ia akan mati. Emas-emas itu akan menjadi tumbal kematiannya!”

Setelah itu, Sangi yang telah menjelma menjadi seekor naga, menceburkan diri ke dalam hulu sungai. Sejak itu, ia menjadi penjaga Sungai Kahayan. Anak Sungai Kahayan itu kemudian disebut pula sebagai Sungai Sangi. Anak keturunan Sangi yang mempertanyakan rahasianya banyak yang meninggal setelah itu.

*  *  *

Suku Dayak Ot Danum dan Ngaju di Kalimantan Tengah mempercayai bahwa peristiwa dalam cerita di atas benar-benar pernah terjadi. Menurut beberapa orang yang sering berlayar dengan sampan atau perahu motor, mereka pernah melihat seekor ular raksasa. Kepalanya berukuran sebesar drum minyak tanah. Di musim kemarau, biasanya mereka melihat ular raksasa itu sedang melingkar di atas bongkahan batu-batu Sungai Kahayan pada saat bulan purnama. Ular raksasa atau naga itu adalah jelmaan Sangi. Sesuai dengan sumpahnya sebelum menceburkan diri ke dalam Sungai Kahayan, bahwa siapa pun yang mendulang emas di sungai akan mati, maka ia sering muncul di musim kemarau, karena pada musim itu penduduk di sekitarnya berramai-ramai melakukan penambangan emas di daerah itu.

Cerita di atas termasuk dalam cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral. Adapun nilai moral yang terkandung di dalamnya adalah setiap orang harus menepati janjinya. Jika janji itu diingkari, maka akan mencelakakan dirinya sendiri. Hal ini tercermin pada sifat Sangi yang telah mengingkari janjinya untuk tidak menceritakan peristiwa yang pernah ia alami bersama pemuda itu. Akibatnya, ia kemudian menjelma menjadi seekor naga.


Sumber :
Read more

2016/07/20

Sejarah Kabupaten Katingan

Katingan adalah nama salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdapat di propinsi Kalimantan Tengah yang membentang dari Utara ke Selatan yang bersumber dari pegunungan Muller Swaner dan bermuara di laut Jawa dengan panjang sekitar 650 Km, yang dalam perkembangannya dijadikan nama Kabupaten Katingan.

Sejarah Kabupaten Katingan


Katingan pada masa kerajaan


Pada abad ke-14 wilayah Katingan merupakan salah satu wilayah jajahan Majapahit seperti yang disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365. Nama sungai Katingan diambil dari nama daerah yang terdapat di hulu sungai tersebut, yaitu daerah Katingan (Kasongan). Belakangan muncul daerah baru di hilir, yaitu Mendawai.

Menurut Hikayat Banjar, wilayah Kabupaten Katingan sudah termasuk ke dalam daerah kekuasaan kerajaan Banjar-Hindu (Negara Dipa) sejak pemerintahan Lambung Mangkurat dengan wilayah kekuasaannya perbatasan paling barat berada di Tanjung Puting. Wilayah ini ketika itu terdiri atas dua sakai (daerah), yaitu Mendawai dan Katingan yang masing-masing memiliki ketua daerah sendiri-sendiri yang disebut Menteri Sakai, kemudian pada abad ke-17 pada masa kekuasaan Sultan Banjar IV, Marhum Panembahan (Raja Maruhum), wilayah Mendawai-Katingan merupakan salah satu daerah yang diberikan kepada puteranya Pangeran Dipati Anta-Kasuma yang kemudian menjadi adipati/raja Kotawaringin menggantikan mertuanya Dipati Ngganding yang wilayah kekuasaannya meliputi bagian barat Kalimantan Tengah saat ini. Menurut Hikayat Banjar, pada masa itu Pelabuhan Mendawai merupakan tempat transit para pedagang Banjarmasin jika hendak pergi berlayar menuju negara Kesultanan Mataram di pulau Jawa.


Katingan pada masa kolonial


Menurut laporan Radermacher, kepala daerah Mendawai/Katingan pada tahun 1780 adalah Kyai Ingabei Suradi Raja. Kiai Ingabehi Suradiraja adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah berhasil membunuh dua orang pengikut Gusti Kasim dari daerah Negara tahun 1780, kemudia ia dilantik sebagai pembantu utama syahbandar di pelabuhan Tatas (Banjarmasin). Pada tanggal 13 Agustus 1787, wilayah Kabupaten Katingan sudah diserahkan Sultan Tahmidullah II kepada VOC Belanda, kemudian daerah ini berkembang menjadi sebuah Distrik.

Pada 2 Mei 1826 Sultan Adam dari Banjarmasin menyerahkan landschap Mendawai (Katingan) kepada Hindia Belanda. Penguasa Mendawai dan Katingan selanjutnya adalah Djoeragan Kassim (1846), Abdolgani (1848), Djoeragan Djenoe (1850), Jaksa kiai Pangoeloe Sitia Maharaja (1851), Kiai Toeainkoe ​​Gembok (1859).

Selanjutnya Demang Anoem Tjakra Dalam atau dikenal sebagai Demang Anggen, dilantik oleh Gubernur Hindia Belanda pada tanggal 10 Januari 1895 dan mengepalai wilayah Mandawai (Districtshoofd van Mandawai, afdeeling Sampit, residentje Zuider en Oosterafdeeling van Borneo). Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8.

Sejak jaman penjajahan Belanda sampai dengan sekitar tahun 1908-an di wilayah DAS Katingan sudah terdapat 10 (sepuluh) kampung yang lebih dikenal sebagai Lewu Pulu, yang terdiri dari :

  1. Lewu Mendawai
  2. Lewu Handiwung Poso
  3. Lewu Luwuk Penda Engkan
  4. Lewu Enyuh atau yang dikenal dengan Kasongan
  5. Lewu Tewang Baringin Tinggang
  6. Lewu Tewang Sanggalang
  7. Lewu Tewang Manyangen Tingang
  8. Lewu Tumbang Terusan Tambun
  9. Lewu Tewang Darayu Langit
  10. Lewu Oya Bawin Telok


Karena pesatnya perubahan dan pertumbuhan kampung-kampung tersebut, maka pemerintah Belanda menempatkan Kantor Pemerintahan yang disebut Onderdistrictshoofd yang berkedudukan di Kasongan.

Pada tahun 1930, Pemerintah Onderdistrictshoofd pertama di Kasongan dimekarkan menjadi 2 (dua) buah, yaitu : Onderdistrictshoofd Pagatan di Pagatan dan Onderdistrictshoofd Kasongan di Kasongan.
Sejak tahun 1944, wilayah Katingan bertambah menjadi 4 (empat) bagian Onderdistrictshoofd, yang terdiri dari :

  1. Onderdistrictshoofd Pagatan di Pagatan
  2. Onderdistrictshoofd Katingan Hilir di Kasongan
  3. Onderdistrictshoofd Tumbang Samba di Tumbang Samba
  4. Onderdistrictshoofd Tumbang Sanamang di Tumbang Sanamang



Katingan pada masa kemerdekaan


Pada tahun 1946, Pemerintahan Onderdistrictshoofd diubah namanya menjadi Kecamatan yang terdiri dari :

  1. Kecamatan Katingan Kuala di Pagatan
  2. Kecamatan Katingan Hilir di Kasongan
  3. Kecamatan Katingan Tengah di Tumbang Samba
  4. Kecamatan Katingan Hulu di Tumbang Sanamang


Kala itu, wilayah Katingan termasuk propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan (sebelum terbentuknya propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah tahun 1957) dan berada dalam wilayah Daerah Tingkat II Kotawaringin Timur sebelum dimekarkan menjadi Kotawaringin Timur dan Kotawaringin Barat.

Pada tahun 1958 Kecamatan Katingan Hilir dengan ibukota Kasongan dimekarkan menjadi 2 (dua) kecamatan, yaitu kecamatan Katingan Hilir di Kasongan dan Kecamatan Tasik Payawan di Petak Bahandang
Tahun 1961, karena perkembangan di wilayah Katingan dibentuk Kewedanaan yang bernama Kewedanaan Sampit Timur, dengan wilayah kerjanya terdiri dari 3 (tiga) kecamatan yaitu kecamatan Katingan Kuala di Pagatan, Kecamatan Tasik Payawan di petak Bahandang, dan Kecamatan Katingan Hilir di Kasongan. Sedangkan Kecamatan Katingan Tengah dan Kecamatan Tumbang Sanamang pada saat itu termasuk Kewedanaan Sampit Timur di Kuala Kuayan.

Pada tahun 1962, pada tanggal 8 Januari 1962, dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor : 1/Pem.17-C-2-3, menyatakan bahwa terhitung tanggal 1 Januari 1962 wilayah Katingan ditingkatkan statusnya sebagai “daerah Persiapan Kabupaten Katingan” dengan ibukota Kasongan dan wilayahnya meliputi DAS Katingan.

Sekitar bulan Februari 1965 tejadi pemekaran kecamatan-kecamatan di wilayah Katingan, yaitu :

  1. Kecamatan Katingan Kuala dimekarkan menjadi Kecamatan Katingan Kuala di Pagatan dan Kecamatan Kamipang di Baun Bango
  2. Kecamatan Katingan Hilir dimekarkan menjadi kecamatan Tasik Payawan di Petak Bahandang dan kecamatan Pulau Malan di Buntut Bali
  3. Kecamatan Katingan Tengah dimekarkan menjadi kecamatan Katingan Tengah di Tumbang Samba dan kecamatan Sanaman Mantikei di Tumbang Kaman
  4. Kecamatan Katingan Hulu dimekarkan menjadi kecamatan Katingan Hulu di Tumbang Sanamang dan kecamatan Marikit di Tumbang Hiran


Pada tanggal 24 April 1965, dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor : 6/Pem.290-C-4 menyatakan bahwa terhitung tanggal 1 Januari 1965 wilayah Katingan yang berstatus sebagai daerah persiapan Kabupaten diubah status atau namanya menjadi “Daerah Administratif Katingan” dengan ibukota Kasongan.

Pada tahun 1979, pemerintah Pembantu Bupati Kotawaringin Timur dibentuk sebagai perubahan nama dari Kabupaten Administratif Katingan berdasarkan :

  1. SK Menteri Dalam Negeri Nomor : 64 tahun 1979 tanggal 28 April 1979 tentang pembentukan wilayah kerja Pembantu Bupati Kapuas untuk Gunung Mas, Pembantu Bupati Kotawaringin Timur untuk wilayah Katingan dan Seruyan, Pembantu Bupati Barito Utara untuk Murung Raya dan Pembantu Bupati Barito Timur di Tamiang Layang.
  2. SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor : 148/KPTS/1979 tanggal 28 Juni 1979 tentang penghapusan status wilayah dan Kantor Daerah Tingkat II Administratif Gunung Mas, Katingan, Murung Raya, Barito Timur serta status wilayah dan Kantor Persiapan Daerah Tingkat II Seruyan.


Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor : 42 tahun 1996 Kecamatan Katingan Kuala dimekarkan menjadi 2 (dua) kecamatan, yaitu : Kecamatan Katingan Kuala di Pagatan dan Kecamatan Mendawai di Mendawai. Sehingga Pembantu Bupati Kotawaringin Timur wilayah Katingan terdiri dari 11 (sebelas) kecamatan :

  1. Kecamatan Katingan Kuala di Pagatan
  2. Kecamatan Mendawai di Mendawai
  3. Kecamatan Kamipang di Baun Bango
  4. Kecamatan Tasik Payawan di Petak Bahandang
  5. Kecamatan Katingan Hilir di Kasongan
  6. Kecamatan Tewang Sanggalang Garing di Pendahara
  7. Kecamatan Pulau Malan di Buntut Bali
  8. Kecamatan Katingan Tengah di Tumbang Samba
  9. Kecamatan Sanaman Mantikei di Tumbang Kaman
  10. Kecamatan Marikit di Tumbang Hiran
  11. Kecamatan Katingan Hulu di Tumbang Sanamang


Atas usul Pemerintah Daerah Tingkat II Kotawaringin Timur (Kotim) dengan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) DPRD Tingkat II Kotim Nomor : 25/KPTS-DPRD/6/1997, tentang persetujuan peningkatan status Pembantu Bupati Kotim wilayah Katingan menjadi kabupaten definitif.
Sejak itu muncullah berbagai aspirasi dan desakan dari berbagai unsur masyarakat untuk memperjuangkan pembentukan Kabupaten Katingan, sehingga dibentuklah Badan Persiapan Pembentukan Kabupaten (BPPK) Katingan yang berkedudukan di Kasongan.


Pembentukan Kabupaten Katingan


Keinginan pembentukan Kabupaten Katingan yang tumbuh dari masyarakat tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah Kotim dan disetujui oleh DPRD Kotim yang berdasarkan keputusan DPRD Kabupaten Kotim nomor : 13/KPTS-DPRD/6/2000 tanggal 6 Januari 2000 tentang persetujuan penetapan pemekaran kabupaten Kotim dan revisi nama serta pembagian wilayah kecamatan kemudian diteruskan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Kalimantan Tengah dan dilanjutkan dengan Surat Gubernur Kalimantan Tengah Nomor : 135/1963/PEM tanggal 6 Agustus 1999 dan Nomor : 1356/II/PEM tanggal 31 Desember 1999.

Perjuangan tersebut dilanjutkan sehingga keluarlah Keputusan DPRD Propinsi Kalimantan Tengah Nomor 8 Tahun 2000 tanggal 31 Juli 2000 tentang penetapan Pemekaran Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Tengah, diteruskan oleh Gubernur Kalimantan Tengah kepada Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dengan Surat Nomor : 135/1172/PEM Tanggal 4 Desember 2000.

Sekitar bulan Januari 2001 Pembantu Bupati Kotim wilayah Katingan dibubarkan, namun perjuangan menuju Kabupaten tetap dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Kotim.

Atas desakan dan tuntutan semua unsur masyarakat dan dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah setempat, disusunlah Rancangan Undang-undang (RUU) pembentukan Kabupaten dan diajukan kepada DPR RI, dibahas dan puncaknya tanggal 10 April 2002 ditetapkan RUU nomor 5 Tahun 2002 Tanggal 10 April 2002 yang diundangkan dalam lembaran negara tahun 2002 Nomor : 18 yang diresmikan pada tanggal 2 Juli 2002 di Jakarta.

Pelaksanaan UU nomor : 5 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya, dan Kabupaten Barito Timur di Propinsi Kalimantan Tengah, ditandai dengan peresmian Kabupaten Katingan di Jakarta pada tanggal 2 Juli 2002. Pada tanggal 8 Juli 2002 pelantikan Pejabat Bupati Katingan di Palangka Raya oleh Gubernur Kalimantan Tengah atas nama Menteri Dalam Negeri; dan dilantiknya anggota DPRD Kabupaten Katingan periode pertama tanggal 21 Januari 2003 di Kasongan.

Pada tanggal 20 Juli 2002 acara peletakan dan penyerahan batu prasasti sekaligus upacara syukuran rakyat atas terbentuknya Kabupaten Katingan yang dilaksanakan di Kasongan. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Katingan.


Sumber :
  • Bappeda Kabupaten Katingan. 2007. "Lima Tahun Kabupaten Katingan"
Read more

2016/07/01

Mengenal Aksara Dayak Iban

Mungkin bagi sebagian masyarakat di Indonesia aksara Dayak Iban terdengar asing. Namun, aksara yang lahir di kalangan suku Dayak Iban di belahan Borneo (Kalimantan) yang masuk dalam wilayah Malaysia ini benar-benar ada, dan sangat pantas untuk diapresiasi.

Menurut legenda, suku Dayak Iban sejak dahulu kala telah memiliki aksara sendiri. Alkisah Renggi, nenek moyang mereka, melarikan diri dari banjir besar sambil membawa kulit kayu berisi aksara Iban. Namun lantaran terkena air, aksara yang tercatat pada kulit kayu itu kemudian hilang. Renggi lantas menelan kulit kayu itu konon sejak saat itulah lahir tradisi menuturkan beberapa cerita silsilah dan adat secara turun-temurun berdasarkan hafalan pada masyarakat suku Dayak Iban.

Kabar baiknya, sekarang orang Dayak Iban tidak lagi hanya sekedar bisa menuturkan beberapa cerita tradisi mereka, namun dapat juga menuliskannya aksaranya berkat temuan Dunging Anak Gunggu (1904-1985), sosok Iban jenius asal Serawak, Malaysia Timur, yang menciptakan aksara Dayak Iban pada tahun 1947. Berawal dari niat untuk melestarikan bahasa Iban melalui aksara, beliau lantas menciptakan 77 simbol yang mewakili bunyi-bunyi dalam bahasa Iban dan selanjutnya menyederhanakannya menjadi 59 simbol. Karena jasanya, aksara Dayak Iban tersebut dinamakan "Aksara Dunging".

Mengenal Aksara Dayak Iban


Dunging Anak Gunggu awalnya mengajarkan beberapa simbol itu kepada keponakannya. Beberapa orang lain dari sukunya hanya menaruh minat sedikit pada aksara ciptaannya. Pemerintah kolonial Inggris pernah memohon Dunging mengajarkan aksara itu pada orang-orang Iban melalui jalur pendidikan resmi. Tetapi, usaha ini berusia pendek saja lantaran beliau tak dapat menyepakati sebagian prasyarat dalam mengajarkan aksara ciptaannya. Pengajaran akhirnya tak berlanjut dan aksara Dayak Iban sempat "tenggelam" pada masa itu.

Kemunculan kembali aksara Dayak Iban di dunia barangkali dapat dikatakan berawal pada tahun 1981, ketika terbit kamus Iban-Inggris susunan Anthony Richards yang mengakui karya Dunging. Pada tahun 1990, Bagat Nunui, anak angkat Dunging, menghimpun berbagai hal mengenai aksara ini dalam sebuah buku yang tidak dipublikasikan. Pada tahun 2001, Yayasan Tun Jugah menerbitkan ensiklopedia Dayak Iban yang berisi info mengenai aksara buatan Dunging. Lalu sekarang Dr. Bromeley Philip, salah seorang cucu-keponakan Dunging, menggiatkan kembali pelestarian aksara Dayak Iban dengan menulis buku serta mengajar mata kuliah mengenai aksara tersebut.

Upaya pelestarian itu disambut baik oleh pemerintah Malaysia, sebagian besar aksara ciptaan Dunging kemudian diajarkan juga pada orang-orang non-Dayak Iban lewat universitas, sekolah-sekolah, dan beberapa komunitas berkaitan aksara. Hebatnya lagi, saat ini telah ada piranti lunak untuk menulis aksara Dayak Iban, yaitu Laser Iban.

Pengguna aksara Dayak Iban memang sebagian besar tinggal di wilayah Malaysia dan sebagian lagi di Indonesia. Jumlah keseluruhan suku Iban di Malaysia, Indonesia, serta Brunei adalah 700.000 jiwa, 15.000 jiwa ada di Indonesia. Namun, walau di Indonesia jumlah tidak sebanyak di wilayah negara tetangga, mestinya tidak mengurangi semangat untuk mempelajari aksara Dayak Iban. Mempunyai aksara saja telah jadikan suku Dayak Iban istimewa, lantaran tak semuanya suku Nusantara mempunyai aksara.

Kiranya semangat Dunging Anak Gunggu mengilhami kita semua. Tabe


Sumber :
Read more

2016/06/29

Menelusuri Jejak Suku Dayak Maanyan di Madagaskar

Madagaskar adalah sebuah pulau yang terletak berseberangan dengan pantai timur benua Afrika bagian selatan di Samudra Hindia dan merupakan pulau terbesar nomor empat di dunia.

Madagaskar diduga terpisah dari benua Afrika selama lebih dari 150 juta tahun. Namun ada pendapat lain - berdasarkan kemiripan struktur tanah - menduga bahwa Madagaskar merupakan pecahan benua Asia. Namun yang pasti, lokasinya yang terpencil dan terisolasi selama 2000 tahun membuat kebanyakan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup di sana unik dan tidak ditemukan di tempat lain di bumi.

Sekitar 75% spesies yang ada di Madagaskar bersifat endemik, artinya tidak hidup di tempat lain di bumi. Pulau ini merupakan rumah bagi binatang-binatang langka termasuk lemur, tenrec (sejenis landak berduri), bunglon berwarna terang, puma-sejenis mamalia, dan jenis-jenis binatang lainnya.


Menelusuri Jejak Suku Dayak Maanyan di Madagaskar


Etnis Malagasi yang saat ini mendiami Madagaskar ternyata datang dari rahim 30 wanita yang terdampar di daerah itu 1.200 tahun yang lalu. Diantara 30 wanita itu, 28 wanita di antaranya berasal dari Indonesia (Kalimantan).

Penelitian genetika terdahulu secara mengejutkan menunjukkan, alih-alih datang dari Afrika, nenek moyang penduduk yang tinggal di pesisir timur Afrika itu justeru datang dari Pulau Kalimantan, pulau yang berjarak seperempat dunia, atau kurang lebih 5.600 kilometer.

Murray Cox, peneliti genetika dari Massey University, Selandia Baru, tertarik dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa darah suku Dayak mengalir di tubuh penduduk Madagaskar. Disebutkan bahwa satu milenium yang lampau sekelompok etnis pribumi Kalimantan berlayar menggunakan perahu mengarungi Samudra Hindia. Kencangnya ombak di perairan luas ini mendorong perahu hingga terdampar di Madagaskar yang tidak berpenghuni.

Kelompok yang terdampar itu selanjutnya membuka lahan di dataran tinggi untuk dijadikan pemukiman dan tempat bercocok tanam. “Kami bicara tentang satu budaya yang berpindah tempat melintasi Samudera Hindia, " tuturnya pada LiveScience.

Tidak hanya soal DNA, ada aspek lain yang membuktikan kontribusi Kalimantan, yaitu bahasa. Dari sisi linguistik, penduduk Madagaskar bicara dalam bahasa, yang asal-usulnya dapat dilacak hingga ke Barito, Kalimantan.

Tiga suku yang berdiam di dataran tinggi Madagaskar, yakni Merina, Sihanaka, dan Betsileo masih berkomunikasi menggunakan bahasa yang mirip dengan sebagian besar leksikon bahasa Maanyan, bahasa yang dipraktekan sehari-hari oleh masyarakat suku Dayak Maanyan yang bermukim di sepanjang Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Juga ditemukan segelintir bahasa yang akarnya dari Jawa, Melayu, atau Sansekerta.

Pertanyaan yang masih tersisa di benak peneliti ini yaitu seperti apa kontribusi genetik pemukim pertama ini pada penduduk Madagaskar saat ini. Untuk mengetahuinya, mereka kemudian mempelajari gen yang didapat dari mitokondria 300 penduduk Madagaskar dan 3.000 penduduk Indonesia.

Pemilihan mitokondria dikarenakan dapur respirasi sel ini menyimpan gen yang diturunkan oleh ibu. Sampel gen menunjukkan kemiripan pada genom orang Indonesia dan Madagaskar.

Selanjutnya untuk mengetahui kapan dan bagaimana etnis dari Indonesia bisa sampai di pulau tersebut, digunakanlah sebuah simulasi komputer untuk menelusuri silsilah genetik manusia Madagaskar yang hidup saat ini ke masa lalu.

Hasilnya menunjukkan bahwa penduduk Madagaskar saat ini berkaitan dengan 30 orang wanita. Para wanita ini diperkirakan merupakan pemukim yang pertama di Madagaskar lebih kurang 1.200 tahun lalu, yang terdiri dari 28 orang wanita dari Indonesia sedangkan 2 orang sisanya dari Afrika.

Dari penelitian lain diketahui kromosom Y yang diturunkan dari ayah menunjukan bahwa pemukim pria pertama Madagaskar juga berasal dari Indonesia. Namun tidak diketahui berapa banyak jumlah mereka.

Berdasarkan fakta bahwa pria dan wanita penduduk Madagaskar datang dari Indonesia, Cox memperkirakan jumlah pria pertama di pulau ini relatif sedikit.

Dari hasil penelitian ini, Cox meyakini populasi etnis Dayak yang terdampar berkembang dengan pesat dan segera menguasai pulau. Diprediksikan kelompok besar telah terbentuk dalam berapa generasi saja.

Pertanyaan yang belum terjawab yaitu mengapa pemukim pertama ini bisa tiba di Madagaskar. Ada kemungkinan mereka terdampar di Madagaskar tanpa disengaja.

Skenario yang mungkin saja terjadi adalah, ada sekelompok etnis Dayak berlayar dengan perahu besar yang mampu menampung 500 orang. Kemudian di tengah perjalanan di samudera yang luas, kapal yang mereka tumpangi terbalik dan terdorong arus laut ke arah barat.

"Beberapa orang menyelamatkan diri menggunakan perahu cadangan," katanya.

Penumpang yang selamat inilah yang kemudian terdampar di Madagaskar dan kemudian mendirikan permukiman pertama di pulau tersebut.


Sumber :
Read more