2016/05/25

Legenda Asal Mula Burung Elang Suku Dayak Ngaju

Alkisah pada suatu hari Raja Sangiang merasa badannya kurang sehat. Karena itu ia lalu menyuruh anaknya Rangkang Karangan memanggil dua orang tabib terkenal yang bernama Mangku Amat Jaya Sangen dan Nyai Jaya Sangiang yang tinggal di Batu Nindan Tarung.

Setibanya di Batu Nindan Tarung, Rangkang Karangan disambut oleh Nyai Jaya Sangiang diiringi pertanyaan tentang maksud kedatangan Rangkang Karangan ke kediaman mereka.

"Saya diutus oleh ayahanda Raja Sangiang menjemput kalian untuk mengobati beliau yang sedang dalam keadaan tidak sehat," kata Rangkang Karangan

"Ayahmu tidak apa-apa. Beliau sudah sembuh," sahut Nyai Jaya Sangiang.

"Bagaimana mungkin Nyai?" kata Rangkang Karangan, "Ayahanda masih dalam keadaan sakit ketika aku berangkat. Marilah ikut bersamaku untuk mengobati ayahandaku" lanjutnya.

Sekali lagi Nyai Jaya Sangiang menegaskan bahwa ayahnya, Raja Sangiang telah sembuh, namun Rangkang tetap bersikeras meminta Nyai Jaya Sangiang ikut bersamanya untuk menyembuhkan ayahnya.

Nyai Jaya Sangiang tetap menolak untuk pergi bersama Rangkang Karangan karena menurutnya ayah Rangkang telah sembuh. Untuk menyakinkan Rangkang, Nyai Jaya Sangiang memberinya dua buah kipas sambil berpesan jika ayahnya masih sakit maka ia harus mengipasi ayahnya dengan kedua buah kipas tersebut.

Akhirnya Rangkang Karangan pun menerima kipas itu dengan perasaan kecewa lalu segera berlari pulang. Setibanya di rumah ia sangat heran melihat ayahnya yang tadi sakit kini dengan santainya berjalan hilir-mudik di depan rumah.

"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Rangkang Karangan dengan rasa heran.

"Sudah sembuh," sahut ayahnya.

Rangkang benar-benar merasa heran dengan kejadian tersebut, lalu menceritakan apa yang terjadi ketika berjumpa Nyai Jaya Sangiang di Batu Nindan tadi.

"Nyai Jaya Sangiang tadi berpesan agar mengipasi ayah dengan kedua kipas ini apabila ayah masih sakit," ujar Rangkang sambil memperlihatkan kipas pemberian Nyai Jaya Sangiang tersebut.

"Kalau begitu, kipaslah ayahmu ini," kata Raja Sangiang kepada Rangkang.

"Ayah kan sudah sembuh, untuk apa lagi mengipasi ayah dengan kipas ini. Kipas ini sudah tidak berguna lagi," sahut Rangkang sambil melemparkan kedua kipas itu keluar melalui pintu depan.

Anehnya kedua kipas yang dilemparkan tadi melayang dan membumbung tinggi ke langit lalu tiba-tiba berubah menjadi dua ekor burung besar, seekor jantan dan seekor betina. Dua ekor burung itu terbang makin tinggi ke langit menuju kediaman para dewata dan akhirnya hinggap pada puncak sebuah pohon bernama Pampang Saribu yang berada di Bukit Ngantung Gandang Kereng Hapalangka Langit, kediaman Putir Selong Tamanang.


Legenda Asal Mula Burung Elang Menurut Mitologi Suku Dayak Ngaju


Sambil bertenger di puncak pohon kedua burung itu menyanyikan syair pantun bersahut-sahutan, yang demikian bunyinya : "Alangkah senangnya kita berdua bisa beristirahat di puncak pohon yang berdahan seribu."

Nyanyian itu terdengar oleh Ranying Hatalla, "Alangkah merdunya suara itu. Suara apakah itu Putir Selong Tamanang?" tanya Ranying Hatalla kepada Putir Selong Tamanang.

"Itu suara burung," jawab Putir Selong Tamanang.

"Burung apakah namanya?" kembali Ranying Hatalla bertanya.

Lalu Putir Selong Tamanang menjelaskan kepada Ranying Hatalla bahwa kedua ekor burung itu baru saja tiba di kediamannya di Bukit Ngantung Gandang Kereng Hapalangka Langit dan ia belum mengetahui nama burung itu.

"Jika demikian maka burung yang jantan kuberi nama Antang Tandurung Nyahu Kenyuy Napatah Tandak, sedangkan yang betina kuberi nama Putir Bawin Antang. Dan sejak saat ini keduanya kuijinkan untuk tinggal di taman bagian selatan yaitu Balai Pating Garing Nabasan Riwut Sali Bumbung Sihung Katalapan!" kata Ranying Hatalla.

Demikianlah kedua Antang (elang) itu menjadi milik Ranying Hatalla dan tinggal bersamanya di taman tersebut, keturunan kedua elang inilah yang kelak menjadi nenek moyang burung elang yang ada di dunia.


Sumber :
  • Lambertus Elbaar, Achyar Ahmad, Toenika J. Bahen. 1982. "Asal Mula Burung Elang". Ceritera Rakyat Daerah Kalimantan Tengah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan - Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. (hal. 38 - 40)
loading...
loading...
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments