2016/04/08

Taman Nasional Bukit Baka - Bukit Raya

Taman Nasional Bukit Baka - Bukit Raya adalah kawasan konservasi yg terletak di jantung Pulau Kalimantan. Kawasan ini mempunyai peranan penting dalam fungsi hidrologis yang merupakan catchment area (penyimpan cadangan air tanah) bagi DAS Melawi di Kalimantan Barat & DAS Katingan di Kalimantan Tengah. Kawasan hutan Bukit Baka - Bukit Raya ini mewakili jenis ekosistem hutan hujan tropis pengunungan yang mendominasi puncak-puncak pegunungan Schwaner

Taman Nasional Bukit Baka - Bukit Raya

Bukit Baka - Bukit Raya adalah gabungan Cagar Alam Bukit Baka di Kalimantan Barat & Cagar Alam Bukit Raya di Kalimantan Tengah. Penetapan Kawasan ini mengalami sekian banyak kali perubahan. Mula-mula, thn 1978, ditetapkan kawasan Bukit Raya ditetapkan sbg cagar alam bersama luas 50.000 ha. Ke-2, th 1979, cagar alam diperluas jadi 110.000 ha. Ke-3, th 1981 kawasan Bukit Baka ditetapkan yang merupakan kawasan Cagar alam dgn luas 100.000 ha. Ke-4, th 1982 luas Cagar Alam Bukit Baka bertambah jadi 116.063 ha. Ke-5, thn 1987 mengalami pengurangan luas cagar alam jadi 70.500 ha. Ke-6, thn 1992, Cagar Alam Bukit Baka & Cagar Alam Bukit Raya disatukan & statusnya diubah jadi taman nasional dgn nama Taman Nasional Bukit Baka - Bukit Raya dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 281/KptsII/1992, tanggal 26 Pebruari 1992 seluas 181.090 Ha.

Berdasarkan peta tanah Propinsi Kalimantan Barat Skala 1 : 500.000 (Instansi Penelitian Tanah Bogor, 1972), type tanah dikawasan Taman Nasional bukit Baka-Bukit Raya, Kab Sintang kepada kebanyakan terdiri atas type podsolik merah kuning (tanah merah), latosol (tanah merah) & litosol (tanah tidak dengan diferesiasi horizon) dgn bahan induk batuan beku endapan, batuan tuff & metamorf.

Fraksi tanah di Kawasan taman nasional terhadap rata-rata kasar, permeable & amat sangat mudah tererosi. Tanah Lapisan atas rata-rata granular bersama warna yg condong gelap mengandung bahan organik, sedangkan tanah terhadap lapisan bawah permukaan (subsoil) berwarna merah sampai kuning yg menandakan bahwa tanah tersebut tak terdapat bahan organik, & mengandung oksida deside nematt (besi) atau geothine.

Bukit Baka - Bukit Raya terdiri atas serangkaian daerah pegunungan dgn fisiografi berupa pegunungan patahan. Ketinggian daerah ini bervariasi antara 150 m dpl s/d ketinggian 2.278 m dpl. Puncak-puncak yg mempunyai ketinggian diatas 1.400 m dpl yg berada di dalam kawasan Taman nasional ialah Bukit Panjake (1.450 m dpl), Bukit Lesung (1.600 m dpl), Bukit Panjing (1.620 m dpl), Bukit Baka (1.617 m dpl), Bukit Melabanbun (1.850 m dpl), Bukit Asing (1.750 m dpl), & Bukit Raya (2.278 m dpl).

Kelerengan rata rata bervariasi antara datar, landai, agak curam & curam. Dataran rendahnya yaitu kawasan landai & berbukit. Tofografi di sektor Selatan taman nasional yg berada di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah rata-rata lebih landai di bandingkan dgn bidang Utara taman nasional sbg wilayah propinsi Kalimantan Barat. Sepanjang batas propinsi Kalimantan Barat & Kalimantan Tengah rata rata bertofografi curam (> 40 persen).

Laporan akhir pengadaan Citra Landsat/Satelit Image terhadap kawasan taman nasional (1985) pada hasil interperetasi penyadapan data ekstra landsat TMFCC skala 1 : 100.000 yg didukung bersama peta tofografi skala 1 : 250.000 & peta Land system skala 1 : 250.000, wujud arena lapang taman nasional bakal dibedakan jadi system dataran (2.901/1,6 persen bersama kemiringan 18-25%), perbukitan (42.921 ha/23,7 persen bersama kelerengan 30-75 prosen) & pengunungan (135.268 ha atau seputar 74,7%, dgn tingkat kelerengan 50-80%). Kawasan ini mempunyai tife iklim A (Schmidt & Ferguson) dgn curah hujan kebanyakan 2.757 mili meter per thn. Temperatur umumnya 19,5C sampai 34,3C juga kelembaban hawa antara 0 prosen sampai 14,3%.

Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya mempunyai beberapa tipe ekosistem, yaitu :
  1. Ekositem Hutan dipterocarpaceae dataran rendah; terletak pada ketinggian 100-1000 mdpl, diperkirakan seluas 115.070 Ha atau 46 %. Pada ketinggian kurang dari 700 m dpl tumbuh diantaranya Bintangur (Callophylum kusteri), Benuang (Octomeles sumatrana), Ulin (Eusideroxylon zwageri), Bengkirai (Shorea laevifolia), Geronggang (Cratoxylon spp), Kapur (Dryobalanops spp), Keladan (Drybalanops beccarii), Keruing (Dipterocarpus spp), Medang (Litsea spp), Tengkawang tukul (Shorea stenoptera), Meranti merah (Shorea leprosula), Meranti (Shorea spp), Resak (Shorea atrinervosa), Durian (Durio zibethinus), Ramoy (Mucuna biplicata), Pasak bumi (Eurycoma longifolia) dan Saluang belum (Evodia sp).
  2. Ekosistem hutan perbukitan; terletak pada ketinggian 1000-1500 m dpl, diperkirakan seluas 58.489,26 Ha atau 23,6 Ha. Pada ketinggian (700-1.500 m dpl), banyak dijumpai Agathis sp, Syzygium verecundum, Syzygium racemosa, Syzygium paludosum, Syzygium steenisii, Syzygium antisepticum, Syzygium rostratum, Syzygium rhamphiphyllum, Syzygium lineatum.
  3. Ekosistem Hutan pegunungan; terletak pada ketinggian diatas 1.500 m dpl tipe ekosistem tersebut seluas 6.930 Ha atau 30 %. Terdapat Suku Myrtaceae, Aporuso sp (Fam. Euphorbiaceae), Palaquim dasyphyllum (Fam. Sapotaceae), Garcinia borneensis (Fam. Clusiaceae), Litsea densifolia (Fam. Lauraceae), Baccaurea racemosa (Fam. Euphorbiaceae), Lithocarpus ewyckii (Fam. Fagaceae), Diplycosia kemulensis, Rhododendron nervulosum, R. Quadrasianum, R. Verticillata, Vaccinium claoxylon, dan V. Clementis (Fam. Ericaceae),
  4. Ekosistem hutan lumut; Vegetasi lumut terdapat puncak-puncak bukit lumut-lumut epifitik, Nephentes ephippita, Burmannia longifolia, Calamus javansis, Melastoma sp, Ficus discoidea, Myrica javanica, Leptopspermum flavescens, Rubus alpertris, Hedyotis sp dan Polyosma sp. dalam jumlah yang berlimpah dan tumbuh subur. Vegetasi lumut tersebut secara karakteristik selalu menyelimuti dan bergelantungan pada batang-batang pohon.


Flora


Tercatat 817 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 139 famili diantaranya Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Sapotaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, dan Ericadeae. Terdapat juga tumbuhan obatobatan, anggrek hutan, bungga Raflesia (Raflesia sp.) yang merupakan tumbuhan parasit terbesar dan juga tumbuh di Gunung Kinibalu Malaysia. Tumbuhan endemic antara lain Symplocos rayae, Gluta sabahan, Dillenia beccariana, Lithocarpus coopertus, Selaginnella magnifica, dan Tetracera glaberrima.

Keistimewaan lainnya dari taman nasional Bukit Baka - Bukit Raya adalah melimpahnya jenis-jenis dari suku Symplocaceae seperti Symplocos adenophylla, Symplocos crassipis, Symplocos laeteviridis, Symplocos rayae dan Symplocos rubiginosa.

Beberapa jenis yang tercatat untuk pertama kalinya ditemukan di Kalimantan bahkan Indonesia adalah Gluta sabahan Ding Hou (suku Anacardiaceae), Microtropis valida Ridl (Suku Celasteraceae), Dillenia beccariana Martelli dan Tetracera glaberrima Martelli (suku Dilleniaceae), Lithocarpus coopertus (Blco) Rehd (suku Fagaceae), Gonocaryum crassifolium Ridley (suku Icacinaceae), Misrostegium spectabile (Trin.) A. Camus (suku Graminiceae) dan Selaginnela magnifica Warb (suku Selaginellaceae).

Jenis-jenis anggrek itu diantaranya : Anggrek Plinplan (Dendrobium mutaabile), Anggrek topas (Coelogyne rochussenii), Anggrek topi (Polystacya flavescens), Anggrek Bintang berpijar (Bulbophyllum Purpurescens), Anggerak Lidah ular (Cymbidium finlaysonianum), Anggrek jinga (Renathera matutina), Anggrek sisik (Pholidota giobosa), Thelasia carinata, Claderia viridifolia, Eria floribunda, Trichoglottis loncolaria, Flickingeria fimbriata, Grammatophylum speciosum, Agrostophylum longifolium, Callothe vestita, Dendrochylum crassum, Liparis Parviflora, Macodes petola.

Adapun Jenis anggrek yang ditemui diantaranya Agrostophyllum haseltii, Bulbophylum obscorum, Coelogyne septemcostata, Dendrochylum davindtianum, Eria cepifolia, Liparis condylobulbon, Pholida carnes, Thelasis carinata.


Fauna


Mamalia : Diantaranya yaitu beruang madu (Helarctus malayanus), kesadu (Mydaus javensis), musang wisel (Mustela nupides), linsang/musang air (Cynogale bennettii), binturong (Arctitis binturong), musang (Paradoxurus hermaphroditus), linsang (Prionodon linsang), musang bergaris (Hemigalus derbyanus), musang belang (Visvessa tangalunga), macan dahan (Neofelis nebulosa), kucing hutan (Felis begalensis), kucing emas (Felis badia), babi hutan putih (Sus barbatus), babi hutan (Sus scrofa), pelanduk (Tragulus napu), kancil (Tragulus sp.), uncal kouran (Macropygia ruficeps), kijang (Muntiacus muntjak), rusa sambar (Cervus unicolor), terenggiling (Manis javanica), binatang malam (Tarsius bancanus), tikus hutan (Apodemus sylvaticus), bajing kerdil pukang (Exilisciurus exilis), bajing kelapa (Collosciurus notatus), bajing terbang (Petaurista elegans), landak (Hytrix brachyuran), kelelawar ekor trubus (Emballonura alecto), codot madu kecil (Macroglassus minimus),

Primata : Diantaranya orang utan (Pongo pygmaeus), lutung kelabu (Presbytis cristata), lutung hitam (Presbytis malalophos), kelasi/lutung merah (Presbytis rubicunda), lutung dahi putih (Presbytis frontata), ungko (Hylobates agilis), wau-wau (Hylobates lar), kelempiau (Hylobates muelleri), kukang (Nycticebus coucang), tarsius (Tarsius bancanus), kera ekor pendek (Macaca sp.), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), dan beruk (Macaca nemestrina).

Burung : Jenis burung yang menetap di taman nasional ini antara lain enggang gading (Buceros Vigil), enggang badak (Buceros rhinoceros), enggang hitam (Anthracoceros malayanus), elang tiram (Pandion haliaetus), elang bondol (Haliaetus Indus), elang kelabu (Butastur indicus), elang Wallace (Spizaetus nanus), elang tikus (Elanus caeruleus), elang hitam (Inctinaetus malayensis), elang ikan kecil (Ichthyophaga humilis), alap-alap sapi (Falco moluccensis), alap-alap capug (Microhierax fringillarius), puyuh (Coturnix chinensis), kareo padi (Amaurornis phoenicurus), delimukan zamrud (Chalcophaps indica), cerek kalung hitam (Charadrius dubius), punai lehar merah (Treron vernans), burung hantu (Otus spilocephalus), pelatuk (Hemicircus conceretus), pergam besar (Ducula pickeringi), serindit melayu (Loriculus galgulus), kua (Argusianus argus), ayam hutan (Lophura bulweri), dan kuau kerdil kalimantan (Polyplectron schleiermacheri) yang merupakan burung endemik pulau kalimantan yang paling langka dan terancam punah.

Ikan : Diantaranya dari Famili Cypriniciae, dengan jenis-jenis : saluang (Osteochilus spilurus), baung (Mystus micracanthus), adung (Hampala macrolepidota), Puntiopliotes waandersi, Lambocheilos bo, Lambocheilos lehat, Tor tambra, Hampala banaculata, Puntioplites waandersi, dan Chelonodon patoca dan Famili Crustaceae, terdiri Potamidae dan Palacomonidae, dengan jenis-jenis : Macrobracium dan Pilimanus.

Reptil dan Amphibi : Diataranya ular (lamaria schlegeli), kadal (Spenomorphus) dan kura-kura darat (famili Testudinidae), katak daun, katak batu, dan kodok.

Serangga : Diantarannya Kupu-kupu (ordo Lepidoptera), kumbang (ordo coleoptera), Belalang (ordo Orthoptera), Capung (ordo Odonata), dan semut (ordo Hymenoptera).


Beberapa lokasi/ obyek yang menarik untuk dikunjungi :

  1. Bumi perkemahan belaban; Tempat berkemah ini berada di wilayah Resor Siyai/ Dusun Belaban Ella, tepatnya di tepi sungai belaban km 32 jalan PT Sari Bumi Kusuma (PT. SBK), berjarak 7 km dari kantor Resor atau 15 menit perjalanan dengan kendaraan roda empat.
  2. Arung jeram; lokasi arung jeram di sungai Ella (wilayah Kalimantan Barat)terletak di km 35 jalan PT. SBK wilayah Resort Siyai/ Dusun Belaban. Kegiatan arung jeram ini dapat dilaksanakan atas kerjasama pihak TN Bukit Baka –Bukit Raya dan HPH PT. SBK, dan sepanjang sungai Senamang daerah Kuluk Sepangi (Kalimantan Tengah).
  3. Trail Wisata; bagi petualang pengamat alam dan kehidupan satwa liar (orang utan, kelimpau, rusa, burung enggang, biawak dll) maka dapat menyusurin trail wisata sepanjang 25 km yang berada di km 35 jalan PT.SBK.
  4. Pendakian/Panorama Alam; terdapat dua bukit yang cukup menarik dan menantang untuk pendakian, yaitu punjak Bukit Baka (1.617 m dpl) dan punjak Bukit Raya (2.278 m dpl), serta Puncak Bukit Asing (1.750 m dpl), Bukit Melabanbun (1.850 m dpl), Bukit Panjing (1.620 m dpl), Bukit Panjake (1.450 m dpl), dan Bukit Lesung (1.600 m dpl). Di sepanjang jalan pendakian terdapat beberapa shelter yang dapat digunakan pengunjung sebagai tempat beristirahat. Pendakian ke puncak Bukit Baka dengan suhu udara antara 15° - 20°C dan sering ditutupi kabut Pendakian ke puncak Bukit Raya suhu udara antara 7° - 10°C., dapat dilakukan dengan menyelusuri sungai dan pengamatan satwa/tumbuhan. Puncak Bukit Baka dapat ditempuh sekitar tujuh jam perjalanan dari Dusun Nanga Juoi Kecamatan Menukung. Lama pendakian menuju puncak Bukit Raya dari Nanga Jelundung, dusun Rumokoy, Mihipit, Hulu Labang, Birang Merabai sampai ke puncak bukit sekitar 3-4 hari.
  5. Sumber Air Panas Sepan Apoi, di daerah Desa Batu Panahan, tepatnya pada sungai Bemban (anak sungai Katingan), Disamping itu, terdapat padang pengembalaan Rusa (Grazing Ground), dan wisata pengamatan (watching; Bird Watching)/ penelitian habitat satwa (Wisata penelitian; Beruang madu).
  6. Air terjun Demang Ehud; Air terjun yang merupakan patahan sungai Ella hulu terletak di ujung trail wisata yang berjarak 25 km dari pintu masuk trail wisata di Km 37 PT. SBK, dan Air terjun Nokan Nayan didaerah Ambalau, Serawai.
  7. Wisata Budaya; bagi yang mengagumi wisata dan menikmati karya budaya penduduk asli suku Dayak yang merupakan keturunan dari kelompok suku Dayak Limbai, Ransa, Kenyilu, Ot Danum, Malahui, Kahoi dan Kahayan, diantaranya yaitu rumah betang (Rumah panjang tradisional yang dihuni oleh beberapa kepal keluarga), patung-patung leluhur mereka yang terbuat dari kayu ulin/belian, dan kerajinan tangan lainnya. Pada hari-hari tertentu masyarakat setempat masih melakukan ritual upacara adat, seperti upacara sengkelan (tolak bala) khusunya pada saat ada pernikahan dan musim panen.


Sarana dan Prasarana Taman Nasional


Jaringan jalan beraspal dan Jalan angkutan kayu beberapa HPH disekitar kawasan Taman Nasional, Visitor Center dengan 3 Kamar koleksi, 1 ruang utama dan 1 ruang pertemuan di Sintang Sarana tarnsportasi milik taman nasional berupa kendaraan roda dua, roda empat, Speed Boat, dan Long Boat Sarana Komunikasi berupa Radio SSB 2 unit (Lokasi Sintang dan Tumbang Hiran), Radio Ring 3 buah (Bellaban, Kaburai, Jelundung) dan Radio HT.

Di dalam kawasan :
  1. Jalan setapak (Trail) di dalam kawasan Taman Nasional
  2. Visitor Lodge di daerah Nanga Juoi
  3. Kamp. Eks NRMP/ ITTO Project; terdapat 6 buah kamar tidur, dapur, ruang pertemuan dan MCK.
  4. Shelter/ tempat peristirahatan sepanjang jalur pendakian ke Arah Puncak Bukit Baka dan Bukit Raya.

Di sekitar kawasan :

Wilayah Kalimantan Barat :
  1. Pos Jaga Kawasan; antara lain Kantor Resor Siyai, Pos Jaga Bellaban Ella dan Barak Polhut di Dusun Bellaban Ella Desa Siyai.
  2. Di Nanga Juoi dan Jelundung terdapat Home stay/ Guest house yang dibangun bersama antara pihak Taman Nasional dengan masyarakat setempat.
  3. Dua buah pintu gerbang di Nanga Juoi dan Jelundung Pos jaga Jelundung, di Dusun Rantau Malam Desa Jelundung.
  4. Camp. beberapa HPH dan Pemukiman Masyarakat (rumah warga) disekitar Kawasan Taman Nasional.

Wilayah Kalimantan Tengah :
  1. Pondok Kerja Tumbang Kaburai, berjarak 1 km dari Desa Tumbang Kaburai Kecamatan Bukit Raya Kabupaten Katingan.
  2. Pondok Jaga di Desa Kuluk Sepangi, Desa Batu Panahan dan Desa Senamang/Sungai Ramanjang.
  3. Pusat Informasi terdapat di desa Tumbang Hiran Kecamatan Marikit Kabupaten Katingan.
  4. Statsiun Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (LITBANG) Kaburai, terdapat Ruang Pertemuan, Ruang Penelitian, dan Rumah Dinas.


Cara pencapaian lokasi :

Rute 1 (Kalimantan Barat) :
  • Pontianak - Nanga Pinoh dengan Bis umum, 11,5 jam,
  • Pontianak - Sintang dengan Pesawat udara perintis, 1 jam perjalanan,
  • Pontianak - Sintang dengan Bus Umum, 9 jam perjalanan,
  • Sintang - Nanga Pinoh dengan Bis Umum, 2,5 jam perjalanan.

Tujuan Puncak Bukit Baka :
  • Nanga Pinoh - Taman Nasional, 2,5 jam dengan kendaraan roda dua atau 4 jam melalui sungai.
  • Nanga Pinoh - Nanga Nuak dengan Speed Boat, 2,5 jam perjalanan,
  • Nanga Nuak - Taman Nasional dengan Motor/Jip, 1 sampai 1,5 jam perjalanan,
  • Nanga Nuak - Nanga Mentatai dengan Speed Boat, 1 sampai 2 jam perjalanan,
  • Nanga Mentatai - Pos jaga Nanga Juoi dengan Long Boat, 1/2 - 1 Jam perjalanan,
  • Nanga Juoi - Puncak Bukit Baka dengan jalan kaki, lebih dari 3 jam perjalanan,
  • Nanga Pinoh - Nanga Popay dengan Motor/Jip, 1 sampai 2 jam perjalanan,
  • Nanga Popay - Belaban Ella dengan Motor/Jip, 1/2 - 1,5 jam perjalanan,
  • Bellaban Ella/Resor Siyai - Pos Jaga Nanga Juoi dengan Motor/ Jip, 1/2 - 1 jam,
  • Bellaban Ella/Resor Siyai - Pos Jaga Tumbang Kaburai dengan Motor/ Jip, 1/2 sampai 1 jam,
  • Kaburai - Kawasan Bukit Baka dengan jalan kaki, 1/8 - 1/4 jam perjalanan,
  • Nanga Popay - Nanga Mentatai dengan Speed Boat, 4 jam perjalanan,
  • Nanga Mentatai - Kawasan Bukit Baka dengan jalan kaki, 1/4 - 1/2 jam perjalanan.

Tujuan Puncak Bukit Raya :
  • Nanga Pinoh - Nanga Serawai dengan Speed Boat, 4,5 jam perjalanan
  • Nanga Serawai - Jelundung dengan Long Boat, 8 jam perjalanan,
  • Jelundung - Puncak Bukit Raya dengan jalan kaki, lebih dari 2 hari perjalanan

Rute 2 (Kalimantan Tengah) :
  • Palangka Raya - Tumbang Hiran dengan kendaraan umum, 6 jam perjalanan;
  • Sampit - Tumbang Hiran dengan kendaraan umum, 8 jam perjalanan;
  • Tumbang Hiran - Batu Panahan dengan Long Boat, 5,5 jam perjalanan
  • Batu Panahan - Puncak Bukit Raya dengan jalan kaki, lebih dari 2 hari perjalanan
  • Tumbang Hiran - Tumbang Taei dengan Long Boat, 1/2 jam perjalanan
  • Tumbang Taei - Puncak Bukit Raya dengan jalan kaki, lebih dari 2 hari perjalanan.


Misteri Keberadaan Suku Dayak Terasing di Bukit Baka


Kelompok pencinta lingkungan hidup dari Universitas Tanjungpura mengaku telah berjumpa dengan sekelompok suku Dayak terasing secara sporadis serta gua yang diduga merupakan tempat tinggal suku tersebut di kawasan Heart of Borneo, Taman Nasional Bukit Baka - Bukit Raya. Lokasi penemuan di perbatasan Kalimantan Barat - Kalimantan Tengah, zona inti Taman Nasional Bukit Baka - Bukit Raya, bagian hulu Desa Tumbang Keburai, Kecamatan Bukit Raya, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, pada ketinggian 800 - 1.000 meter dari permukaan laut.

Tim Sylva Untan dalam melakukan ekspedisi didampingi petugas Taman Nasional Bukit Baka - Bukit Raya, Dodi dan Genting. Mereka berpapasan di tengah hutan dengan beberapa orang yang diduga merupakan warga Dayak Uud Sio. Ketua Tim Sylva Untan Harry Ramadani mengatakan, awalnya rombongan mendengar suara siulan melengking, kemudian Genting, petugas dari Taman Nasional Bukit Baka - Bukit Raya, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Tidak lama kemudian, ujar Harry, terlihat sejumlah orang lewat dengan berjalan kaki sangat cepat, sehingga tidak bisa dihitung berapa jumlahnya. Selang beberapa lama kemudian, ditemukan patahan kayu kecil setinggi leher, sebagai tanda suatu saat orang-orang Dayak Uud Sio akan pulang lewat lokasi yang sama.

Tim Sylva Untan melakukan perjalanan selama tiga hari, 20 - 22 Februari 2011. Tim ini didampingi Zainudin Bari, dua warga lokal dari Balaban Ella, Desa Tumbang Keburai : Naro dan Sudin. Tim Sylva Untan tidak berani membuat dokumentasi foto dan video terhadap hasil penemuan karena berdasarkan legenda warga lokal, akan membahayakan keselamatan jiwa mereka.

"Gua kecil yang relative bersih dan patut diduga dijadikan tempat persinggahan Dayak Uud Sio selama dalam berburu binatang ditemukan di ketinggian 960 meter dari permukaan laut. Ketika malam hari, di seputar tenda kami masih berkali-kali mendengar ada suara orang lewat, dan sangat diyakini dua warga lokal penunjuk jalan, Naro dan Sudin, sebagai aktifitas orang Dayak Uud Sio," kata Harry.

Ketua Pegiat Tradisi Kaharingan Provinsi Kalimantan Barat, Badjau Djambang, mengatakan, di dalam legenda Dayak Uud Danum, orang Dayak Uud Sio sengaja mengasingkan diri di hutan, sebagai bentuk hukuman kalah perang dengan warga yang bermukim menetap. Dayak Uud Sio, ujar Badjau, selalu menghindar kalau berpapasan dengan orang asing di dalam hutan, sebagai salah satu bentuk ketaatan terhadap sumpah kalah perang.


Sumber:
loading...
loading...
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments