2016/06/11

Betang Toyoi, Etalase Pluralisme Suku Dayak

Betang Toyoi terletak di Desa Tumbang Malahoi, Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah sekitar 6-8 jam perjalanan darat dari kota Palangka Raya Kalimantan Tengah dengan kondisi jalan yang ekstrim untuk dilalui oleh kendaraan minibus biasa.

Betang Toyoi, Etalase Pluralisme Suku Dayak
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Diperkirakan mulai dibangun tahun 1817-1896 oleh salah seorang keturunan Bungai dan Burow, yaitu Toyoi Panji, nama Toyoi sendiri kemudian diabadikan sebagai nama betang untuk menghormati sang pendiri.

Baca juga : Riwayat Desa Tumbang Malahoi

Hampir seluruh bagunan betang ini berbahan dasar kayu Ulin, mulai dari tiang utama, lantai dan dinding bahkan atap pun dibuat dari kayu ulin yang kesemuanya sudah berusia ratusan tahun dan masih utuh hanya beberapa bagian saja yang keropos dan berjamur dimakan usia. Tanpa paku, hanya pasak dan simpul untuk mengikat dan menyambung kayu-kayu tersebut menjadikannya suatu bangunan yang kokoh.

Terdapat seni pahat pada bilah atap di atas pintu utama berupa ukiran manusia berdiri di atas matahari memegang daun bunga dan di sekitarnya terdapat burung Enggang serta Balanga yang dikenal sebagai "Ukir Batang Kayu Nyangen Tingang Banyamei Rumbak Tambarirangan Bintang Patendu Batang Sawang Ngandang Sapatahu Sangkanak Kameluh Tuntang Haramaung".

Baca juga :


Etalase Pluralisme Suku Dayak


Bagi suku Dayak, Betang adalah jantung dari struktur sosial kehidupan masyarakat Dayak. Kehidupan komunal dalam satu Betang telah membentuk kebersamaan antar individu dalam rumah tangga dan masyarakat tanpa melihat perbedaan. Kebersamaan ini tercermin dalam kebiasaan sehari-hari dalam hal berbagi makanan, berbagi suka-duka, saling melindungi maupun mobilisasi tenaga untuk mengerjakan ladang (handep). Konsep kebersamaan dalam satu Betang ini kemudian dikenal sebagai Budaya Rumah Betang.

Budaya Rumah Betang merupakan cerminan kebersamaan dalam kehidupan keseharian orang Dayak. Nilai paling utama yang menonjol dalam kehidupan di Betang adalah nilai kebersamaan warga yang menghuninya, terlepas dari keragaman dan perbedaan yang mereka miliki, baik perbedaan status sosial, juga dalam hal agama dan kepercayaan yang diimani. Demikian halnya keluarga penghuni Betang Toyoi, dari dua keluarga yang menghuni, mereka ada yang menganut agama Kristen, Kaharingan dan Islam, namun satu sama lain hidup rukun dan harmonis meski berbeda keyakinan.

Mungkin tidak semua warga suku Dayak mengetahui apa itu pluralisme, namun prakteknya telah diterapkan turun temurun dimulai oleh para leluhur sejak jaman dahulu. Dan Betang Toyoi adalah salah satu etalase pluralismenya suku Dayak di Kalimantan Tengah yang dapat dilihat oleh dunia luar, yang merupakan cerminan keseharian kehidupan masyarakat suku Dayak yang hidup rukun dalam keberagaman keyakinan.

Masyarakat suku Dayak tidak pernah dipusingkan oleh halal-haramnya suatu makanan. Rasa hormat yang begitu tinggi kepada kerabat - yang karena keyakinannya tidak boleh mengkonsumsi bahan makanan tertentu - tercermin dengan penggunaan peralatan makan berbeda (khusus) jika suatu saat kerabat yang lain ingin makan dengan menu yang haram bagi kerabat lainnya. Demikian halnya ketika berniat memotong ayam, maka kerabat yang Muslim dipersilakan untuk menyembelih ayam tersebut agar bisa dimakan bersama.

Sementara itu pemandangan berbeda dapat kita saksikan terutama di kota besar seperti Jakarta kontestasi ideologi dan agama marak terjadi hingga tak jarang menimbulkan kekerasan dan penindasan atas nama agama dan kelompok mayoritas untuk menghambat ideologi dan agama yang berseberangan, ada baiknya para penggiat intoleransi negeri ini menyempatkan diri berkunjung ke Etalase Pluralisme Suku Dayak di atas, untuk bercermin dari masyarakat Dayak dan budaya Betang yang masih dipertahankan hingga sekarang, bahwa Dayak adalah suku yang toleran terhadap perbedaan, menghargai perbedaan prinsip, etnik, latar belakang sosial bahkan agama.

Perbedaan adalah sebuah anugerah yang dikaruniakan Tuhan pada manusia, akan lebih baik jika kita saling berkontestasi secara sehat dan alami tanpa harus memupuk pemikiran salah dalam ruang pikir kita bahwa ideologi atau agama orang lain adalah salah dan harus dihentikan.

Tabe.


Sumber :
loading...
loading...
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments